Panggung runway kembali menjadi wadah protes isu politik.


Maria Grazia Chiuri tidak henti-hentinya melakukan sebuah revolusi dalam dunia mode. Dalam peragaan busana koleksi ready to wear Dior, merefleksikan sebuah kejadian yang terjadi di Paris pada tahun 1968. Saat itu para anak muda melakukan protes menentang kapitalisme dan konsumerisme yang semakin berkembang di era tersebut. Pada tahun itu pula terjadi perubahan terhadap Dior dengan meluncurkan Miss Dior – label ready to wear yang diciptakan oleh Marc Bohan. 


Keseluruhan koleksi ini terinspirasi dari estetika busana pada era 1960-an, dengan mengimplementasikan sebuah sweater bertuliskan “C’est non non non et NON!”. Kalimat tersebut merepresentasikan keadaan saat ini dan pada tahun 1968. Selain itu Chiuri juga menghadirkan beragam plaids penuh warna dan material motif cetak. Sentuhan maskulin juga mengemas koleksi ini dengan menampilkan outerwear seperti blazer, jaket dan long coat.  


Kendati dalam koleksi ini penuh dengan pesan protes, Chiuri juga memberikan sentuhan feminin dengan menghadirkan embroidery dress. Ia juga mendesain runway dengan beragam gambar sampul majalah yang menghiasi seluruh sisi panggung. Para model menunjukkan ekspresi wajah tangguh dengan hiasan aksesori seperti baret dan waist belt yang diprediksi akan menjadi tren sepanjang tahun 2018.


(Piti)