Stay in The know

Me & Mind

Melihat Sisi Psikologis Para Teroris

Melihat Sisi Psikologis Para Teroris

Merujuk pada psikologi, teroris bukanlah psikopat.

Durasi baca: 1 menit 10 detik.


Dalam kurun waktu kurang dari 1 minggu, sejak 8 Mei 2018, sudah ada 8 kejadian teror yang berlangsung di Indonesia. Berawal dari kerusuhan di Mako Brimob, pengeboman 3 gereja di Surabaya, upaya penusukkan di Mako Brimob, bom di Sidoarjo, bom di rusunawa Surabaya, hingga bom di markas Polrestabes Surabaya—semua terjadi dalam waktu singkat. Pertanyaan muncul, apa yang ada di benak para teroris hingga tega melakukan tindakan tidak manusiawi ini? GLITZMEDIA.CO melihat sisi psikologis para teroris dari penelitian psikolog dan profesor.


(BACA JUGA: Pasca Aksi Teror di Prancis Sejumlah Nama Besar Lontarkan Duka Mendalam)

(BACA JUGA: 11 Selebriti Ini Sampaikan Ungkapan Dukanya Atas Kejadian Teror di Orlando)


TERORIS TIDAK SAMA DENGAN PSIKOPAT

Di balik sifatnya yang strategis dan instrumental, terorisme tidak bisa dikategorikan ke dalam psikopat klasik. Teroris memiliki beberapa koneksi terhadap prinsip atau ideologi. Ia juga memiliki hubungan dengan manusia lain, termasuk teroris lainnya. 


Psikopat, di lain hal, tidak memiliki koneksi ini sehingga tidak akan mau mengorbankan dirinya untuk suatu hal. John Horgan, profesor di Universitas Leicester, berkata bahwa belum ada penelitian yang berhasil membuat profil teroris secara akurat karena sifat-sifat manusia tidak bisa dijadikan acuan untuk memprediksi perilaku. Jadi, terorisme yang menunjukkan bentuk jelas dari kekerasan ini masih dikaji secara mendetail.



(Foto: Nessaja99/ Pixabay.com)


SIFAT MILITAN

Sifat militan yang dimiliki teroris didapat dari kerentanan. Rasa rentan ini muncul dari ketidakadilan atau penghinaan, kebutuhan akan identitas dan rasa memiliki. Hal ini dijelaskan lebih lanjut oleh Randy Borum, rekan profesor di Departemen Kejiwaan, Universitas Florida. Kerentanan ini dilihat sebagai faktor yang kuat untuk menimbulkan rasa keterikatan atau keterlibatan akan sesuatu. Hal ini akan berujung pada lahirnya teroris yang menemukan suatu arti, rasa memiliki, terhubung, dan afiliasi pada kelompok ekstrimis radikal. 

  • PAGE
  • 1
  • 2

You Might Also LIke