Stay in The know

Health & Body

Hati-Hati, Status Waspada Gunung Anak Krakatau Masuk Level II

Hati-Hati, Status Waspada Gunung Anak Krakatau Masuk Level II

Gunung Anak Krakatau terlihat bererupsi dan mengeluarkan getaran kencang, sesaat sebelum tsunami Selat Sunda terjadi

Durasi baca: 1 menit.


Kejadian tsunami di Selat Sunda yang menyerang Banten, memang dinyatakan terkendali dan tidak ada tsunami susulan. Tetapi, ada hal lain yang perlu diwaspadai bahkan oleh seluruh warga Indonesia dan dunia, yakni status Gunung Anak Krakatau yang berada di Selat Sunda.


Melansir dari berbagai laman media massa Indonesia, kemungkinan besar tsunami yang melanda Banten adalah efek dari pergerakan Gunung Anak Krakatau. Bahkan beberapa hari sebelum tsunami terjadi, mulut Gunung Anak Krakatau terlihat bererupsi.

(BACA JUGA: Band Seventeen Jadi Korban Keganasan Tsunami Banten)


Sehingga pihak BMKG menilai, kejadian tsunami bisa juga terjadi karena pengaruh pergerakan Gunung Anak Krakatau. Gunung Anak Krakatau sendiri merupakan gunung yang muncul akibat letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883. Sejak itu, Anak Krakatau terus tumbuh hingga saat ini mencapai tinggi sekitar 338 meter di atas permukaan laut.



(Foto: instagram.com/didikh017)


Pada Sabtu, 22 Desember 2018 lalu, Tim Patroli Kepulauan Krakatau Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) mengatakan, pihaknya merekam aktivitas Anak Krakatau pada sore hari. Saat itu, Anak Krakatau terlihat menyemburkan material pijar secara terus menerus. Bahkan semburan ini juga dibarengi dengan getaran yang cukup kencang.


Melansir dari CNN Indonesia, Presiden Indonesia Joko Widodo menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk waspada soal status Gunung Anak Krakatau. Hal ini ia sampaikan secara langsung di depan wartawan, saat berkunjung ke Pandeglang, Banten, untuk melihat lokasi kejadian pasca bencana tsunami.




(Andiasti Ajani, foto: emmasabatini.com)

Author:

You Might Also LIke