×

Stay in The know

Health & Body

Sering Merasa Lapar Usai Berpikir Keras? Ternyata, Ini Alasannya

Sering Merasa Lapar Usai Berpikir Keras? Ternyata, Ini Alasannya
Ayu Utami

Wed, 12 July 2017 at 15.00

Benarkah Anda butuh makan banyak ketika berpikir keras? Temukan jawabannya di sini.

Apakah Anda pernah merasa ingin segera mengonsumsi makanan setelah berpikir keras? GLITZMEDIA.CO pun mengalami hal serupa. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan: Apakah berpikir benar membuat lapar akibat adanya pembakaran kalori atau hanya sekadar sugesti? Berawal dari pertanyaan ini kami ingin mengulas—tentunya secara tuntas—mengapa rasa lapar sering mampir setelah otak digunakan untuk berpikir.


Berpikir Membakar Kalori

Menurut Ferris Jabr dari Scientificamerican.com, otak membutuhkan 20% dari total kalori yang tubuh keluarkan dalam satu hari. Jika Anda membutuhkan 1.500 kalori, maka otak menghabiskan 300 kalori perhari. Otak membutuhkan kalori tersebut untuk mengakomodir semua kebutuhan gerak tubuh. Dalam satu jam, otak akan membakar 12.5 kalori dalam keadaan bukan berpikir keras. Saat Anda berpikir keras, tentu lebih banyak lagi kalori yang otak butuhkan saat bekerja.


Otak Butuh ‘Makan'

Selain oksigen yang cukup, glukosa merupakan menu santapan yang paling dibutuhkan oleh otak. Menurut David Rock, penulis “Your Brain at Work”, otak membutuhkan sumber metabolisme—terutama glukosa—ketika berpikir (BACA: Terjawab, Ternyata Ini Yang Membuat Anda Susah Fokus Saat Bekerja). Saat kadar glukosa menurun akibat berpikir terlalu keras, maka otak mengirimkan sinyal lapar. Anda pun merasa membutuhkan asupan makanan lebih banyak, meskipun sebenarnya yang diinginkan tubuh hanyalah kandungan glukosa.


Kebutuhan tersebut kemudian menimbulkan pertayaan baru: seberapa banyak makanan yang Anda butuhkan ketika berpikir keras? Menurut penelitian pada jurnal Psychosomatic Medicine, sebanyak 14 murid diuji coba untuk membuktikan apakah berpikir keras membuat rasa lapar berlebih. Sebanyak 7 orang menjalankan tes di dalam sebuah ruangan dan 7 sisanya menghabiskan waktu bersantai. Setelah 45 menit, 14 peserta disuguhkan hidangan buffet. Hasilnya, mereka yang menjalani tes mengonsumsi 200 kalori lebih banyak ketimbang yang bersantai. Padahal, perbedaan kalori yang terbakar antara mereka yang melakukan tes dan tidak, hanya terdapat selisih 3 kalori saja.

Jika Anda mengikuti manipulasi rasa lapar akibat otak kekurangan glukosa untuk berpikir, maka obesitas akan menjadi risiko yang mungkin dialami. Cara agar rasa lapar tersebut dapat terkontrol adalah dengan mengonsumsi secangkir teh manis hangat, makan permen, atau menu manis lainnya dalam jumlah sedikit. Hal ini akan membantu Anda untuk mengusir rasa lapar.

Jadi, cobalah untuk tidak buru-buru mengambil makanan dalam jumlah banyak setelah berpikir keras, ya.

(Shilla Dipo, foto: Jcomp/Freepik.com, Katemangostar/Freepik.com)

You Might Also LIke