×

Stay in The know

Health & Body

Serba-Serbi Emotional Eating: Definisi Hingga Cara Mengatasinya

Serba-Serbi Emotional Eating: Definisi Hingga Cara Mengatasinya
Meichella Nancy

Fri, 13 September 2019 at 18.36

Emotional eating lahir dari perasaan tidak berdayanya seseorang atas emosinya sendiri.

Durasi baca: 55 detik.


Ketika merasa sedih, marah, frustasi, hingga cemas, sebagian orang cenderung akan melakukan pelarian pada makanan. Ada yang mengonsumsi makanan dan minuman manis, ada juga yang mengonsumsi makanan-makanan cepat saji. Mengonsumsi makanan saat emosi tidak stabil sering disebut sebagai emotional eating.


Emotional eating seringkali berdampak baik bagi para pelakunya. Terutama soal perbaikan mood. Mereka yang menyantap menu makanan tertentu saat sedang down, biasanya mood mereka akan kembali seperti sedia kala. Sayangnya, emotional eating memiliki dampak yang kurang baik untuk kesehatan terutama soal berat badan.


Terlebih kondisi emosi seseorang bisa berubah dengan cepat seiring dengan kondisi yang terjadi di kesehariannya. Ada orang yang mudah sedih atau kecewa ketika berdebat dengan rekan kerjanya. Ada juga mereka yang mudah marah ketika atasannya menegur karena alasan yang tidak jelas misalnya.


Hal-hal seperti ini dapat memicu munculnya emotional eating. Semakin sering emotional eating terjadi, maka tubuh juga harus mulai menerima akibat buruknya. Bagi Anda yang memiliki pribadi tipe emotional eating, sebaiknya baca artikel berikut ini. 


Karena GLITZMEDIA.CO telah mengompilasi dua cara yang bisa Anda lakukan dalam mengontrol atau mengendalikan emotional eating. Hal ini perlu Anda pahami, guna menjaga kesehatan tubuh Anda sendiri. Tubuh yang sehat, secara tidak langsung juga akan memicu pertumbuhan emosional yang sehat juga.

(BACA JUGA: 5 Cara Menjaga Emosi Tetap Stabil Selama Masa Kehamilan)




MENGONTROL RASA LAPAR SAAT EMOSI

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, emotional eating biasanya muncul ketika emosi seseorang sedang down. Namun, jika kondisi ini terlalu sering terjadi, maka kesehatan tubuh Anda juga akan terancam.


Maka dari itu, mulailah coba untuk mengendalikan rasa lapar sebagai bentuk jaga-jaga jika emosi Anda mendadak berubah. Kalaupun Anda tidak bisa menghindari makanan saat emosi tidak stabil, sebaiknya tetap gunakan nalar Anda dengan memilih menu makanan yang tidak berlebihan.


Misalnya ingin mengonsumsi makanan manis. Konsumsi satu jenis makanan saja, jangan makanan manis lalu minumnya juga manis. Kalau nanti Anda terkena diabetes bagaimana? Mood Anda juga pasti akan berantakan kan?


MENGONTROL TINGKAT EMOSI DI DALAM DIRI

Jika Anda tidak bisa mengendalikan emotional eating, maka pilihan kedua adalah Anda harus mengontrol atau mengendalikan kondisi emosi di dalam diri. Jika Anda tahu ketika emosi terganggu akan makan banyak, maka usahakan untuk menghindari konflik yang memicu ketidakstabilan emosi.


Sehingga, Anda jadi punya alasan untuk tidak mengikuti emotional eating yang muncul dari dalam diri. Contoh, kalau bisa tidak marah usahakan jangan marah. Kalau bisa tidak sedih, usahakan jangan merasa sedih.


Bila Anda bisa mengendalikan emosi dalam diri, maka kemungkinan emotional eating muncul juga akan terminimalkan.


(Audy Muhammad Lanta/Andiasti Ajani, foto:  yarden, matheus ferrero/unsplash.com)

You Might Also LIke