Simak penjelasan lengkapnya dalam artikel berikut ini!


Ada sebuah stigma di masyarakat tentang pasien yang dirawat di rumah sakit. Ketika pasien tersebut dirawat di ruang intensive care unit atau ICU, biasanya nyawa dari pasien tersebut sudah pasti tidak tertolong.


Meskipun stigma tersebut tidak bisa dipukul rata untuk semua pasien. Karena bagaimanapun penyebab pasien meninggal dunia tentu ada banyak faktornya. Bukan hanya perkara ia dirawat di ruang ICU.


Namun biasanya, penyebab pasien terutama pasien yang mengalami infeksi tidak kunjung sembuh ketika dirawat di ruang ICU adalah karena masalah resistensi antimikroba. Resistensi Antimikroba (AMR) merupakan tantangan di bidang kesehatan manusia dan hewan dengan skala global yang perlu ditahan penyebarannya.


Karena kalau tidak dikendalikan, pasien jadi harus tinggal lebih lama di rumah sakit. Tinggal lebih lama di rumah sakit artinya akan membuat biaya yang harus dikeluarkan pasien semakin membengkak. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan membuat pasien meninggal dunia.


Karena itulah melakukan pengendalian terhadap Resistensi Antimikroba adalah hal yang sangat penting untuk dilakukan. Beberapa hari lalu melalui sebuah webinar, Prof. Dr. dr. Hindra Irawan Satari, Sp.A (K), M.TropPaed selaku Ketua Perhimpunan Pengendalian Infeksi Indonesia (PERDALIN), mengajak media massa untuk membahas persoalan ini lebih lanjut.


Dokter Hindra mengatakan bahwa AMR dapat terjadi karena penggunaan antibiotik yang tidak tepat pada berbagai sektor. Penyebaran bakteri yang mengandung gen pembawa sifat AMR dapat berakibat kepada masyarakat. Entah lewat gangguan infeksi, makanan, sampai lingkungan.

(BACA JUGA: Bisa Videocall, Konsultasi Kesehatan Via Aplikasi Telemedicine AlteaCare Jadi Lebih Puas!)


“Terdapat beberapa poin penting yang harus dilakukan untuk membasmi AMR. Salah satunya adalah dengan cara memahami lebih dulu soal mekanisme dari resistensi bakteri itu sendiri,” ungkapnya.


Pernyataan dokter Hindra juga didukung oleh dokter Anis Karuniawati, PhD, SpMK(K), selaku Koordinator Bidang Organisasi Perdalin. Menurut dokter Anis penyebaran AMR dapat terjadi karena adanya limbah.


Limbah ini dapat mengandung bakteri dengan gen sifat pembawa AMR. Bakteri dengan gen sifat pembawa AMR ini nantinya akan menyebar ke bakteri lainnya. Bakteri tersebut akan mengkontaminasi air, tanah, dan akhirnya seluruh lingkungan.


“Bahkan berdasarkan Distribusi Data AMR yang dikumpulkan dari spesimen darah dan urine, terdapat beberapa bakteri yang ditemukan. Terutama K.pneumoniae dan E.coli.”


Dokter Anis menambahkan bahwa pemerintah diharapkan bisa turut andil dalam melawan AMR. Salah satu caranya adalah dengan meningkatkan edukasi kepada masyarakat tentang pencegahan penyebaran penyakit infeksi.


“Masyarakat harus diberi edukasi bahwa ada beberapa cara untuk mencegah penyebaran penyakit infeksi. Utamanya adalah menjaga kebersihan, kesterilan, vaksinasi, serta meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan,” tutupnya.



(Foto: news.de)


(Andiasti Ajani, foto: rsudkertosono.nganjukkab.go.id)