Stay in The know

Health & Body

Pantang Garam Bagi Hipertensi Tidak Selalu Benar. Benarkah?

Pantang Garam Bagi Hipertensi Tidak Selalu Benar. Benarkah?

Simak penjelasan tiga dokter ahli ini untuk masalah pantangan garam dan hipertensi.

Durasi baca: 1 menit


Banyak mitos berkembang di masyarakat bahwa jika pasien hipertensi menghentikan konsumsi garam, maka pengaruh yang dihasilkan sangatlah signifikan. Ternyata, hal ini tak sepenuhnya benar. 


Menurut Dr.dr. Yuda Turana, SpS., mengurangi konsumsi garam tidaklah memberi pengaruh signifikan pada pasien hipertensi. Ungkapan tersebut pun didukung oleh dua dokter ahli lainnya, dr. Tunggul D. Situmorang, Sp.PD-KGH., dan dr. Arieska Ann Soenarta, SpJP(K), FIHA.

(BACA JUGA: Diet Buddha Turunkan Berat Badan Melalui Pikiran dan Waktu)


Banyak pasien saya yang justru tidak rutin minum obat dengan alasan mereka telah mengurangi konsumsi garam dalam makanannya. Pendapat ini justru terbalik. Obat bagi pasien darah tinggi memang dibutuhkan dan tak ada alasan untuk menggantinya dengan cara lain,” ungkap pendiri Indonesian Society of Hypertension (InaSH) ini. 


Ingat, Anda yang sudah terkena darah tinggi harus minum obat sampai seterusnya, karena obat tersebutlah yang mengontrol tekanan darah di dalam tubuh,” tambahnya.


Menambahkan hal tersebut, dr. Ann mengatakan, “Jika makan tak ada rasa karena tidak adanya garam, pasien justru bisa stres dan tekanan darahnya cenderung akan meningkat. Membatasi kadar garam perlu, namun bukan berarti membuat makanannya menjadi hambar,” ungkapnya.


Ketiga dokter itu pun sama-sama mengungkapkan jika garam tetap dibutuhkan oleh seseorang, terlepas orang tersebut hipertensi atau tidak. 


Jika Anda melakukan general check up, lihatlah pada kandungan garam (Natrium) dalam tubuh. Normalnya, kadar Natrium adalah 135 – 148 mEq/lt. Jika kurang dari itu, tubuh justru bisa mengalami kejang-kejang,” papar dr. Tunggul.

(BACA JUGA: Pangkas Berat Badan Dalam Waktu 3 Hari dengan Metode Diet Militer)


FUNGSI UTAMA GARAM DALAM TUBUH 

Anda pun perlu mengetahui bahwa sifat garam adalah menahan cairan. Jika tubuh kekurangan garam, maka Anda akan kekurangan cairan di dalam tubuh sehingga mengganggu fungsi organ lainnya. 


Kekurangan garam juga mengganggu kerja kelenjar adrenal dalam memproduksi hormon ouobain yang berfungsi untuk menyeimbangkan kadar garam dan kalsium pada pembuluh darah.


Sebaliknya, jika garam terlalu banyak, maka volume cairan tubuh akan meningkat dan hal ini membuat aliran darah menjadi semakin cepat. Tidak hanya itu saja. Terlalu banyak garam juga dapat mengganggu kerja kelenjar adrenal karena tingginya natrium dalam tubuh merusak kerja hormon ouobain. 


Karena garam yang terlalu tinggi, hormon ouobain akan memproduksi lebih banyak kalsium. Padahal, kalsium dan garam yang terlalu banyak ini dapat menjadi akibat dari penyempitan pembuluh darah serta hipertensi.


“Tak hanya garam, banyak orang salah persepsi dengan fungsi berbagai jus untuk menurunkan tekanan darah tinggi, mulai dari belimbing hingga seledri. Anda harus ingat bahwa upaya-upaya selain obat adalah faktor yang membantu—bukan yang utama,” jelas dr. Yuda. 


Mengubah gaya hidup dan mengonsumsi obat adalah poin utama dalam menjaga tekanan darah. Jika pasien tak bisa berkomitmen dengan hal tersebut, dokter pun akan sulit menolongnya,” tutur dr. Yuda. “Obat bukan menyebabkan ketergantungan, namun itu memang sudah menjadi kebutuhan pasien hipertensi,” tambah dr. Tunggul.


(Shilla Dipo/ Agnes Priscilla, foto: Unsplash/ Stefan Johnson, Pexels.com/ Valeria Boltneva/ Kaboompics.com)


Author:

You Might Also LIke