Menurut data, pada tahun 2020 jumlah pengidap insomnia mengalami kenaikan yang signifikan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.


Meski sudah setahun berlalu, apakah di antara kamu masih ada yang mengalami coronasomnia? Coronasomnia adalah sebuah istilah medis untuk gangguan tidur yang dialami oleh seseorang selama pandemi.


Beberapa waktu lalu, Tokopedia menggelar sebuah seminar virtual bertajuk 'Wellness From Home'. Seminar tersebut menghadirkan dokter Andreas Prasadja RSPGT selaku Praktisi Kesehatan Tidur.


Dokter Andreas menjelaskan bahwa selama pandemi akibat Covid-19, ada sebuah istilah baru yang muncul dalam dunia medis. Yakni coronasomnia, sebuah gangguan tidur yang dialami oleh banyak orang karena pandemi.


“Menurut data, sepanjang tahun 2020 jumlah penderita insomnia itu meningkat drastis, jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Faktor penyebabnya tentu bermacam-macam, tetapi utamanya adalah karena mayoritas dari kita selalu beraktivitas di tempat yang itu-itu saja. Batasan inilah yang kemudian menjadi faktor pengganggu waktu tidur mereka,” ujar dokter Andreas.


Lebih lanjut dokter Andreas mengatakan, maksud dari batasan tersebut adalah seseorang akan tidur, bangun, bekerja, bahkan mungkin makan, di tempat yang sama setiap hari. Yakni di kamar.


“Termasuk juga mungkin menonton, ibadah, dan aktivitas lainnya dilakukan di tempat yang sama.”


Belum lagi soal perubahan waktu yang terjadi selama pandemi ternyata cukup memengaruhi waktu istirahat seseorang saat tidur di malam hari.

(BACA JUGA: Tingkatkan Kualitas Tidur di Hari Tidur Sedunia 2021)



(Foto: pexels.com/ivan samkov)


“Misalnya nih kamu merasakan kantuk yang luar biasa di siang hari, lalu kamu putuskan untuk tidur. Padahal bisa jadi rasa kantuk itu muncul bukan karena kamu mengantuk, tapi karena jenuh atau bosan berkat rutinitas dan suasana sehari-hari yang itu-itu saja,” tambahnya.


Kalau sudah begini, maka secara otomatis jam tidur kamu di malam hari pasti akan berubah. Menurut dokter Andreas, konsisten dengan jam kerja kamu selama di rumah juga penting untuk diperhatikan.


“Kalau biasa kerja dari pagi sampai sore, ya usahakan untuk tetap bekerja di jam itu. Jangan mentang-mentang WFH jam kerja jadi suka-sukanya. Sebetulnya tidak apa-apa sih kalau memang mau, tetapi yang perlu diketahui adalah ketidaktertiban ini bisa memengaruhi jam tidur kamu. Sedangkan kita semua tahu kalau tidur cukup adalah salah satu cara untuk meningkatkan sistem imun tubuh.”


Pernyataan ini memunculkan pertanyaan: tapi kan jam tidur setiap orang berbeda-beda? Lantas apa ciri-ciri kalau seseorang tidur dengan jumlah waktu yang cukup.


“Sebelum menjawabnya, perlu tahu dulu kalau orang dewasa itu butuh tidur sekitar tujuh sampai sembilan jam dalam sehari. Kalau masih remaja ada di kisaran delapan sampai sembilan jam. Bicara soal ciri-ciri seseorang berhasil cukup tidur adalah...”


“Ketika bangun pagi ia merasa segar, ketika siang hari tidak merasakan kantuk sama sekali. Meskipun di hari itu ia tidak mengonsumsi kafein atau nikotin. Jadi kalau ada di antara kamu yang mungkin tidak mengalami ciri-ciri ini setiap bangun pagi, tandanya harus ada yang diubah dari kebiasaan kamu selama pandemi ini,” tutup dokter Andreas.


(Andiasti Ajani, foto: pexels.com/anna nekrashevich)