Stay in The know

ads

Health & Body

Lakukan Hal ini Ketika Emosi Memengaruhi Pola Makan

Lakukan Hal ini Ketika Emosi Memengaruhi Pola Makan

Tidak jarang emosi merusak pola makan Anda.


Apakah Anda pernah mengonsumsi makanan dalam jumlah besar secara tidak sadar? Bisa jadi hal ini dipengaruhi oleh perubahan emosi yang tidak stabil. Sebenarnya, mengikuti kata hati untuk makan dengan porsi banyak tidaklah salah. Meskipun begitu, bila intensitasnya mulai berlebihan ada baiknya Anda mulai membatasi dengan beberapa langkah ini agar pola makan tidak mengundang penyakit.


Pikirkan Kembali

Alih-alih pergi ke restoran dan membeli makanan, coba pikirkan kembali apa yang sebenarnya Anda butuhkan. Jika hanya untuk meluapkan emosi, urungkan kembali niat Anda agar pola makan tetap terkendali. Sebaiknya Anda minum air mineral bersuhu ruang dan tunggu hingga waktu 10 menit. Biasanya jika lapar karena kondisi emosional, rasa kosong di perut akan hilang setelah mengonsumsi air mineral.


Cari Kegiatan Lain

Luapkan emosi pada kegiatan selain makan. Anda bisa mencoba meditasi untuk menenangkan pikiran, berbagi cerita dengan kerabat, atau melakukan hobi yang ditekuni. Ketika menjalani kegiatan lain yang disukai, otak cenderung melupakan emosi yang sebelumnya hadir di kepala.


Mencari Akar Permasalahan

Mencari tahu pemicu hadirnya emosi yang memengaruhi pola makan bisa menjadi solusi. Dengan begitu, Anda bisa menghindari hal tersebut atau memikirkan apa yang seharusnya dilakukan ketika si pemicu datang—tentunya selain makan.


Mulai Pola Hidup Sehat

Menurut dr. Indra Muhtadi seorang dokter yang berprofesi sebagai konsultan kesehatan dan pemilik situs Indramuhtadi.com, kebiasaan makan berlebih karena emosi bisa dicegah dengan pola hidup yang sehat. Memulai hari dengan sarapan, serta olahraga secara rutin akan menjauhkan Anda dari kebiasaan ini.


Jika Anda merasa gangguan pola makan ini sudah mengganggu dalam taraf yang berlebih, sebaiknya segera lakukan konsultasi dengan dokter karena hal ini bisa menunjukkan adanya indikasi depresi pada diri.


(Nisa Rahtio, foto: StockSnap/Pixabay.com)

You Might Also LIke