Stay in The know

Health & Body

Kenali Fakta dan Penyebab Terjadinya Serangan Epilepsi Pada Seseorang

Kenali Fakta dan Penyebab Terjadinya Serangan Epilepsi Pada Seseorang

Singkirkan stigma negatif bagi para penderita epilepsi dan bantu mereka dengan cara yang tepat.

Setiap orang pasti memiliki harapan untuk bertahan hidup lebih lama dengan keadaan normal tanpa dibedakan di dalam lingkungannya. Begitu pula bagi para penyandang epilepsi. Mereka tidak hanya berjuang melawan penyakitnya, namun Orang Dengan Epilepsi (ODE) juga harus bertaruh dan berkompetisi dengan lingkungan mereka tinggal.

Sayangnya, menurut Aska Primardi selaku Praktisi Psikologi dan Peneliti Perilaku Konsumen, menemukan bahwa hambatan ODE dalam proses penyembuhan justru terdapat dalam lingkungan sosial, di mana faktor ini kerap kali menjadi penghalang mereka untuk dapat sembuh dan sulit mengembangkan potensinya.

Oleh karena itu, Anda diajak untuk mengenal lebih jauh fakta-fakta seputar epilsepsi, sehingga kita dapat sama-sama menepis segala stigma negatif yang kerap kali salah diartikan oleh pandangan masyarakt luas terhadap ODE, seperti: 




Epilepsi adalah sebuah penyakit yang menular

Padahal gangguan ini bukanlah suatu hal yang dapat menular melalui kontak fisik, sehingga Anda tidak perlu takut untuk merangkul, berteman, atau bahkan menolong mereka saat terjadi serangan dengan ODE.


Epilepsi Tidak Dapat Disembuhkan

Pandangan ini sangatlah salah, karena sebenarnya epilepsi merupakan penyakit yang masih dapat ditolong. Para penderita hanya diajurkan untuk selalu rutin mengonsumsi obat setiap saat untuk meminimalisir serangan yang terjadi. Selain itu, jalur operasi pun dapat ditempuh. Namun, bagi Anda yang mengalami gejala kejang-kejang segera memeriksakan diri segera ke dokter dalam waktu kurang dari 24 jam setelah serangan. Jika sudah melebihi waktu tersebut, biasanya kondisi tubuh kembali normal dan penyakit tidak mudah dideteksi.


Epilepsi = Retasi Mental

Retasi mental sendiri merupakan penurunan fungsi intelektual, sehingga kedua pengertian tersebut tidak dapat disamakan. Para ODE memang terbilang cepat lupa atau sulit berkonsentrasi, namun bukan berarti mereka tak dapat berprestasi dan bersaing di tempat kerja dengan mereka yang terlahir normal. Pada kenyataannya pun banyak ODE yang sukses serta jauh lebih berkembang. Seperti sang komponis musik klasik terkenal Beethoven dan seorang bangsawan asal Prancis Napoleon Bonaparte.




Lebih lanjut, jika Anda bertanya-tanya apa sebenarnya penyebab penyakit Epilepsi, inilah penjelasan dari dr. Irawati Hawari, SpS selaku Ketua Umum Yayasan Epilepsi Indonesia (YEI).


Faktor Genetik

“Epilepsi dapat diturunkan pada anak, namun persentasenya sangat kecil, tergantung bagaimana turunan dari atasnya. Jika sang kakek atau ibu menderita penyakit ini, berarti kesempatannya lebih besar terkena pada anak”.


Riwayat Saat Lahir

“Anak-anak yang terlahir dengan cara divakum, ketuban pecah sebelum waktunya, atau gangguan pada proses kehamilan lainnya. Maka kemungkinan terjadi gangguan pada otak mereka sangatlah besar. Sehingga akan berdampak pada kesehatan mereka yang membuat terjadinya epilepsi”.


Kecelakaan

“Epilepsi sangat memungkinkan terjadi dengan siapa saja dan usia berapa pun. Mungkin saat ini Anda terlihat baik-baik saja, namun bagi mereka yang pernah mengalami kecelakaan dan terjadi benturan di daerah kepala, sebaiknya berhati-hatilah. Kondisi ini bisa jadi pemicu utama terjadinya serangan epilepsi pada Anda tanpa disadari”.


Mengonsumsi Obat-Obatan Terlarang

“Obat-obatan terlarang tidak hanya mengganggu kesehatan, mental, dan fisik seseorang, melainkan juga berdampak negatif bagi sistem saraf Anda. Pengaruhnya akan mengakibatkan jaringan otak terganggu dan tak dapat berfungsi dengan baik, hingga menyebabkan epilepsi”.


Bagaimana Cara Penyembuhan & Menolongnya?

“Banyak orang yang salah menangani ODE ketika mengalami serangan. Jangan pernah memberikan sendok pada mulut mereka, karena hanya akan membuat gigi para ODE menjadi patah. Selain itu, biarkan mereka bergerak bebas, tanpa harus mengikat kaki dan tangannya, yang justru dapat mebahayakan keselamatannya. Sebaiknya baringkan mereka di atas kasur atau sofa dalam keadaan terlentang, kemudian miringkan kepala ke arah kanan atau kiri. Namun, jika serangan terjadi lebih dari 1-2 menit, segeralah bawa ke dokter untuk mendapatkan perawatan intensif.”

(Elizabeth Puspa, Images: Dari berbagai sumber)

Author:

You Might Also LIke