Darah manis dalam istilah medis disebut sebagai dermatitis atopik.


Istilah darah manis, memang begitu melekat di telinga hampir seluruh masyarakat Indonesia. Darah manis adalah istilah yang biasa diberikan oleh seseorang pada orang lain yang ketika luka akan meninggalkan luka di atas kulitnya. Entah dari mana istilah darah manis ini muncul pada awalnya.


Namun menurut ahli atau pakar kesehatan kulit, menyebut gejala ini sebagai darah manis adalah hal yang tidak tepat. Karena sebetulnya, darah manis dalam istilah medis adalah bentuk gangguan dermatitis atopik. Penderita dermatitis atopik, tandanya memiliki kondisi kulit yang sensitif.


Misalnya kering atau kurang minyak dan mudah gatal karena beberapa hal. Umumnya adalah hal-hal yang menyebabkan alergi. Mulai dari makanan hingga udara. Tetapi tidak jarang karena hal sepele, seperti gigitan nyamuk yang kemudian digaruk.

(BACA JUGA: 5 Cara Alami untuk Hilangkan Bekas Luka)




Ketika digaruk lalu meninggalkan luka, maka bekasnya bisa jadi susah hilang dari tubuhnya. Dermatitis atopik merupakan penyakit atau gangguan kesehatan yang sifatnya genetik. Orangtua yang mengidap gangguan dermatitis atopik, memiliki risiko yang tinggi untuk menurunkannya kepada anak mereka. 


Ketika seorang penderita dermatitis atopik mengalami alergen, atau penyebab alergi, maka tubuhnya akan bereaksi memproduksi antibodi berupa Imunoglobin E. Imunoglobin E merangsang kulit untuk mengeluarkan beberapa zat seperti histamine, sitokin, dan leukotrines.


Zat-zat inilah yang kemudian memicu munculnya rasa gatal dan membuat kulit dengan mudahnya meradang. Jika digaruk, maka akan meninggalkan bekas luka yang sulit hilang.


(Andiasti Ajani, foto: brightside.me, rd.com)