Stay in The know

Health & Body

Inilah Beda antara Obsesi dan Kecanduan Media Sosial

Inilah Beda antara Obsesi dan Kecanduan Media Sosial

Kedua hal yang sering dianggap sama ternyata miliki perbedaan.


Keseharian masyarakat kini kian tidak bisa terlepas dari media sosial. Menurut penelitian Digital GFK Asia, orang Indonesia menghabiskan waktu selama 5.5 jam di depan ponselnya dalam sehari. Jumlah ini paling banyak didominasi oleh media sosial. Tidak heran jika Facebook sampai membuka kantor resmi di Jakarta. Fakta ini membuat banyak orang berpikir bahwa masyarakat Indonesia kini mengalami kecanduan media sosial. Tepatkah istilah tersebut?


Menurut direktur klinis Center for Internet Addiction Recovery, Kimberly Young, PsyD, lebih banyak masyarakat yang mengalami obsesi media sosial dibanding kecanduan media sosial. Kedua istilah ini ternyata memiliki arti mirip namun kondisi yang sangat berbeda. Dilansir dari Refinery29.com, disebut kecanduan jika otak mencari zat tertentu seperti dopamin atau serotonin. Sedangkan obsesi muncul pada saat Anda terdorong memantau media sosial untuk mengurangi kadar kortisol atau adrenalin dalam tubuh. 


Kecanduan Media Sosial

Orang yang mengalami kecanduan media sosial akan merasa senang ketika berkutat di laman maya tersebut. Tangan Anda tidak ingin berhenti untuk scrolling beranda Instagram untuk melihat unggahan foto atau video karena menimbulkan perasaan senang. Contoh lain dari kecanduan media sosial adalah ketika Anda tidak bisa memilah mana yang perlu diunggah dan tidak. Seseorang yang mengalami kecanduan media sosial akan membuat akun virtual tersebut seperti pengalihan hidup dan akan merasa kurang ketika tidak bisa mengaksesnya.

  • PAGE
  • 1
  • 2

Author:

You Might Also LIke