Seseorang yang terlalu aktif menggunakan media sosial—dan berinteraksi terlalu dalam—memiliki tingkat kecemasan yang tinggi. Hal ini disebabkan adanya kondisi yang membuat Anda melihat beragam jenis pemberitaan mulai dari hal yang positif hingga negatif. Akhirnya, berita tersebut pun membuat pikiran Anda terpecah-belah, ikut mengeluarkan argumentasi, masuk ke dalam perdebatan, hingga memunculkan masalah baru yang berujung pada stres yang meningkat. “Highly idealized representations of peers on social media elicits feelings of envy and the distorted belief that others lead happier, more successful lives,” ujarnya lagi.

Orang yang terlalu aktif dalam media sosial juga sangat besar peluangnya mengalami depresi akibat kejahatan cyber yang sering dialaminya. Kasus bullying, penghinaan, sindiran, dan sebagainya sebenarnya menjadi faktor utama yang memperparah sikap dan tingkah laku pengguna media sosial yang cenderung agresif. “Spending more time on social media increases the exposure to cyber-bullying, thus causing feelings of depression. And social media fuels ‘Internet addiction’, which is considered a psychiatric condition linked to depression,” tegas Primack. 


Kebebasan untuk menyampaikan pendapat atau ekspresi dalam media sosial kian terbuka seperti tanpa batasan tertentu—sekalipun sudah mulai ada aturan khusus yang berlaku. Jika kurang cerdas dalam penggunaannya, media sosial bisa disalahgunakan dan memberikan efek buruk tidak hanya berdampak pada lingkungan tetapi juga kesehatan diri sendiri. Oleh karena itu, sebagai user Glitzy dianjurkan lebih berhati-hati ketika mengakses media sosial. Tak mudah terjebak dan terpancing dengan isu-isu yang berkembang, apalagi yang tak jelas sumbernya. Pastikan pula Anda membatasi mengakses media sosial agar hidup anda lebih teratur, jauh dari depresi, dan sehat.  

(BACA: Tidak Eksis Di Sosial Media Ternyata Memberikan Keuntungan Seperti 7 Hal Ini)

(Elizabeth Puspa, Image: Berbagai Sumber)