Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia diperingati setiap tanggal 10 September sejak tahun 2003. 

Durasi baca: 1 menit.


Bulan Maret tahun 2019 lalu, penyanyi muda Ardhito Pramono, pernah tampil di dalam vlog atau video blog milik penyiar radio sekaligus presenter Gofar Hilman. Saat itu, Ardhito banyak bercerita pada Gofar soal berbagai sisi dari hidupnya.


Mulai dari kecintaannya pada dunia musik, kariernya sebagai musisi, hingga hal-hal sensitif termasuk pelecehan seksual dan depresi yang pernah ia alami. Menariknya, saat itu ada sebuah kalimat yang terlontar dari mulut Ardhito bahwa dirinya sempat berpikir untuk bunuh diri karena depresi yang ia alami.


Namun, sebelum memutuskan untuk bunuh diri Ardhito pernah berupaya untuk overcome atau mengatasi masalah depresi yang ia alami. Salah satunya dengan menghubungi hotline yang disediakan oleh pemerintah bernama ASA.


Sayangnya, hotline tersebut tidak aktif. Padahal menurut Ardhito, hotline tersebut sangatlah penting. Sebab kesehatan mental manusia itu sama pentingnya dengan kesehatan fisik.  Gara-gara video itu, GLITZMEDIA.CO kemudian menelusuri apa benar hotline tersebut tidak aktif?


Dan benar saja, pagi ini Editor GLITZMEDIA melakukan kontak ke nomor (021) 500 454. Namun jawabannya adalah nomor tersebut hanya bisa diakses tanpa kode area. Akhirnya Editor GLITZMEDIA.CO mencoba lagi menghubungi nomor tersebut tanpa kode area. 

(BACA JUGA: Pengaruhi Kesehatan Mental, Stop Saling Membandingkan Ukuran Payudara dengan Orang Lain) 



Tetap saja tidak terhubung. Bahkan muncul nada telah tersambung saja tidak. Padahal, melansir dari artikel detik.com yang diterbitkan pada bulan Januari 2019 lalu, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengungkapkan akan kembali mengaktifkan nomor tersebut.


Artinya, pemerintah mengakui bahwa nomor tersebut memang dinonaktifkan pada tahun 2014. Alasannya karena hotline tersebut dinilai tidak efektif dari berbagai sisi. Plus, angka penelepon yang mengaku punya masalah depresi dan keinginan untuk bunuh diri semakin menurun. 


Sebetulnya kesimpulan ini adalah hal yang positif. Artinya mayoritas masyarakat Indonesia merasa dirinya sehat tidak hanya secara raga, tapi juga secara jiwa. Tapi di sisi lain, bisa jadi sebetulnya banyak orang tidak berani bicara tentang masalah kejiwaan.


Sebab, stigma atau pandangan masyarakat kita terhadap depresi dan bunuh diri, bukanlah sebagai suatu hal yang urgent atau tingkat kepentingannya tinggi. Terbukti, layanan BPJS atau asuransi kesehatan hanya bisa digunakan untuk perawatan kesehatan fisik saja.


Kita tidak bisa menggunakan kartu BPJS atau asuransi untuk berobat ke psikolog atau psikiater. Belum lagi soal pandangan-pandangan miring yang cenderung menyebut orang dengan tingkat stres tinggi hingga depresi dan mau bunuh diri, dicap sebagai orang gila atau Drama Queen.