Benarkah vape lebih aman bagi yang aktif dan pasif? GLITZMEDIA.CO menjawabnya.

Fuh! Gumpalan asap putih kini banyak mengepul di udara saat Anda tengah asyik berkumpul bersama teman-teman. Bedanya, kali ini asap tersebut tidak berbau tembakau layaknya rokok, melainkan wangi bak buah-buahan atau bahkan menu dessert favorit. Ya, vape atau vaporizer sepertinya menjadi alternatif bagi para mantan perokok untuk berhenti menyulut api lintingan tembakau. Beberapa rekan bahkan berani mengklaim bahwa vape tidak berbahaya bagi kesehatan. Benarkah?

GLITZMEDIA.CO paham betul jika Anda pun penasaran akan vape—meskipun tidak menggunakannya. Benarkah asapnya aman untuk orang ketiga, seperti ibu hamil dan anak-anak? Berikut jawaban lengkapnya, Glitzy.


"Benarkah vape lebih aman dari rokok?"

Meski belum banyak penelitian mengenai hal ini, namun American Heart Association (AHA) telah mengeluarkan pendapatnya. Dalam laporannya, AHA menuliskan bahwa, “E-cigarettes (vape) present an opportunity for harm reduction if smokers use them as substitutes for cigarettes”.



"Jadi, apakah vape aman?"

Lebih aman dari rokok bukan berarti vape aman secara menyeluruh. Faktanya, vape pun mengandung berbagai kandungan yang berbahaya bagi kesehatan. Pertama adalah nikotin, meski tidak sebanyak rokok. Tak hanya itu, vape juga mengandung propylene glycol, glycerin, dan perasa kimia. Menurut U.S Food and Drug Administration (FDA), ada beberapa liquid (cairan vape) yang mengandung formaldehyde—penyebab kanker.