Jangan anggap remeh cairan keputihan yang keluar dari vagina ini.

Durasi Baca: 1 menit


Vagina memang memiliki cairan yang memiliki berbagai fungsi. Selain sebagai pelindung alami, cairan ini berperan sebagai pelumas saat berhubungan intim. Namun, di dalam jaringan vagina juga hidup bakteri dan jamur dalam kondisi seimbang untuk menjaga vagina. Jika ekosistem vagina terganggu, terjadilah keputihan.

(BACA JUGA: Jaga Kebersihan Miss V Demi Kesehatan Reproduksi)



KEPUTIHAN PUN PERLU ANDA DIWASPADAI

Ada masanya ketika cairan vagina yang dikeluarkan terlalu berlebih. Hal ini umumnya disebabkan karena faktor hormonal seperti menjelang ataupun setelah menstruasi, stres, saat hamil, atau ketika Anda terangsang. Kondisi inilah yang disebut keputihan atau flour albus.


Jika keputihan berwarna bening, tidak berbau, dan tidak menimbulkan rasa gatal pada vagina, maka Anda tak perlu khawatir. 


Yang perlu Anda khawatirkan adalah saat cairan yang dikeluarkan oleh vagina tidak bening, berwarna kekuningan, keabuan, kehijauan, kental, berbau, jumlahnya cukup banyak, dan menyebabkan gatal pada vagina.


“Keadaan tersebut terjadi karena pengaruh bakteri, jamur, virus, atau parasit yang merusak kondisi ‘lingkungan’ vagina,” ungkap dr M.Syah Nadir Chan, SpOG (K). 


Keputihan ini terjadi karena kondisi vagina yang lembap dan tidak bersih. Pemicunya antara lain tidak sering mengganti pembalut, tampon, atau panty liner. Membiarkan vagina tidak kering optimal setelah buang air kecil pun dapat menjadi penyumbang masalah utama.


Kondisi ini seringkali terjadi pada wanita pekerja. “Apalagi Indonesia memiliki iklim tropis, tingkat kelembapan yang tinggi pun sangat memengaruhi kondisi vagina,” jelasnya lagi.