Penggunaan MSG pada masakan yang masih sering menjadi momok setiap orang. 

Durasi baca: 55 detik 


Penggunaan MSG pada masakan memang masih menjadi kontroversi perihal manfaat dan bahayanya. MSG secara umum digunakan untuk memberikan cita rasa yang gurih pada makanan.  


Namun beberapa tahun belakangan banyak orang yang lebih memilih menghindari MSG karena dikhawatirkan dapat memberikan efek buruk bagi kesehatan. MSG atau monosodium glutamate yang berasal dari sodium, air, dan glutamic acid ditemukan lebih dari 100 tahun lalu oleh seorang ahli kimia asal Jepang yaitu Kikunae Ikeda. 

(BACA JUGA: Menu Lezat Ayam Giling)


Ia mengolahnya dari rumput laut. Monosodium glutamat ini memberi rasa unik pada makanan yang dikenal dengan umami sebagai komponen rasa terpenting masakan Jepang. 


Kontroversi ini berawal dari Robert Ho Man Kwok yang menulis surat dan diterbitkan oleh The New England Journal of Medicine pada tahun 1968. Kwok menceritakan bahwa ia mengalami reaksi sakit kepala dan reaksi alergi setelah makan Chinese Food. 



Ia pun mempertanyakan apakah hal itu akibat pengaruh anggur, rempah dalam makanan, atau MSG yang umumnya dicampurkan pada masakan Asia. 


Surat Kwok yang merujuk pada kumpulan gejala “Chinese Restaurant Syndrome” mendorong orang untuk mengaitkan reaksi dan pengalaman kesehatan mereka seperti sakit kepala, mual, dan reaksi kulit memerah setelah makan masakan Cina. 

(BACA JUGA: 5 Makanan Indonesia yang Disukai Dunia)


GLUTAMAT DIPRODUKSI OLEH TUBUH ANDA SENDIRI 

Glutamat adalah asam amino yang dibutuhkan tubuh karena perannya membentuk protein. Glutamat membantu mengirimkan sinyal dalam otak, membantu Anda lebih fokus, meningkatkan metabolisme, serta meningkatkan daya konsentrasi. 


Glutamat sebenarnya merupakan penyedap rasa alami yang terdapat pada tomat, keju, dan daging. Penyedap rasa alami ini bahkan ada dalam kandungan ASI. 


Pada penelitian yang pernah dilakukan oleh FEMA (Fakultas Ekologi Manusia) IPB, MSG dapat membantu memunculkan nafsu makan orang-orang yang kurang beruntung atau mereka yang berada di pedalaman. 


JANGAN BERLEBIHAN 

Sesuatu hal yang berlebihan tentu tidak akan memberikan hasil yang baik untuk tubuh. Penelitian yang pernah dilakukan oleh WHO menyatakan bahwa mengonsumsi MSG tidak memengaruhi kesehatan tubuh asalkan tidak dikonsumsi dalam jumlah yang berlebihan. 


Seberapa besar takaran kelebihan MSG tersebut akan direspon tubuh dengan rasa tidak enak pada indra perasa, mual, bahkan muntah. Sebagai manusia, Anda tentu akan memahami batasnya. 




Menurut  Prof. Ir. Ahmad Sulaeman, MS. PhD. Guru Besar Bidang Keamanan Pangan dan Gizi, Fakultas Ekologi Institut Pertanian Bogor (IPB), menjelaskan bahwa MSG yang dapat menyebabkan penyakit berbahaya tidaklah relevan. 


Hal ini disebabkan peneliti MSG memberi makan MSG dalam jumlah besar bahkan melebihi ambang batas kemampuan hewan percobaan yaitu tikus. Manusia tentu tidak akan mengonsumsi MSG sebanyak itu. 

(Ratih Dwiningtyas, foto: Unsplash/ Yvonne Lee Harijanto)