Stay in The know

What's New

Lulu Lutfi Labibi: Busana Serba Gelap di Jakarta Fashion Week 2019

Lulu Lutfi Labibi: Busana Serba Gelap di Jakarta Fashion Week 2019

Perayaan kegelisahan Lulu Lutfi Labibi.

Durasi Baca: 1 menit


Tak hanya sekedar busana. Ada banyak hal yang ditunggu pemerhati mode saat menyaksikan fashion show seorang desainer. Mulai dari aksesori yang dikenakan, tata rias wajah, hingga cara setiap desainer mempresentasikan karyanya. Semakin ekspresif kolaborasi elemen tersebut, maka karakternya semakin kuat. Sebuah fashion show pun terasa membekas dan menjadi semakin menarik. 


Dalam fashion show yang digelar hari Rabu, 24 Oktober 2019 di Jakarta Fashion Week 2019 kemarin, Lulu Lutfi Labibi menuai banyak decak kagum. Laki-laki yang berdomisili di Yogyakarta ini dikenal dengan desainnya yang mengusung lurik lewat teknik drapping. Lulu menampilkan koleksi bertajuk ‘Tepian’. 


Koleksi ini adalah rangkaian keempat yang melengkapi 3 tema sebelumnya yaitu Perjalanan, Tirakat, dan Persimpangan. 


Saat GLITZMEDIA.CO hadir dalam fashion show-nya, koleksi keempat ini tampak dibuat pekat dan gelap. Agar dramatis, lampu dibuat padam di sebagian panggung catwalk.  Dengan diiringin musik Cello, seluruh model yang mempresentasikan busananya berjalan dengan sangat pelan, tanpa ekspresi, lengkap dengan riasan wajah yang dibuat serba pucat.  Cara ini tentu membuat seluruh mata tertegun dan hanyut dalam suasana. 


Karena waktu dibuat sangat pelan oleh Lulu, pecinta fashion kala itu bagaikan ikut dibius untuk memperhatikan dominasi tekstur dan detail busananya. 


Dengan tema ‘Tepian’, saya memang ingin mengajak semua orang berjalan pelan menuju pintu gerbang penerimaan,”ujar Lulu seraya mendeskripsikan karyanya. 


KARYA TERBARU LULU

Masih mengedepankan ciri khasnya. Lulu menghadirkan koleksi lurik yang dikombinasikan dengan berbagai motif modern. Yang menarik, kain lurik Lulu dibuat dengan tangan, bukan mesin. Ia pun mengaplikasikan teknik geredan yang menghasilkan motif di tepi kain. 


Ada sekitar 30 busana yang ditampilkan Lulu saat itu. Warna hitam yang mendominasi seluruh busananya dinilai Lulu sebagai warna perlambang spiritualitas manusia. Sentuhan warna lain yang menemani nuansa hitam kala itu adalah biru navy, merah marun, hingga mustard.


Anda dapat menyaksikan kain lurik yang dikemas modern dalam model busana one shoulder, rok lilit, hingga celana wide legs yang nyaman. Sungguh jauh dari kesan tradisional.


Jika Anda mengikuti perjalanan 3 tema busana sebelumnya, tema busana keempat ini seolah menggambarkan cerita akhir Lulu sebagai perayaan kegelisahan hidup. 


(Anggia Hapsari, foto: Image.net, GLITZMEDIA.CO)


 


You Might Also LIke