Bukan hanya istilah, social distancing merupakan salah satu teori yang ada di dalam ilmu sosiologi.

Durasi baca: 1 menit.


Social distancing, belakangan ini menjadi kata atau kalimat yang paling sering didengar, baca, dan ucapkan terkait dengan virus corona. Social distancing sebetulnya bukan hanya istilah yang diciptakan oleh instansi atau seseorang. Karena pada kenyataannya, ada sebuah teori yang mengangkat soal hal ini.


Melansir dari laman resmi Brock University, Kanada, social distance scale adalah sebuah teori yang dikemukakan oleh seorang profesor ahli sosiologi bernama Emory S. Bogardus. Bogardus juga merupakan pencetus didirikannya Fakultas Sosiologi di seluruh dunia.


Ia pertama kali mendirikan Fakultas Sosiologi pada tahun 1915 di University of Southern California. Bicara soal teori social distance scale yang dibuat oleh Bogardus, teori ini sebetulnya ia gunakan untuk mengukur secara empiris tentang kesediaan orang, apakah ia mau melakukan kontak sosial atau tidak.

(BACA JUGA: Serba-Serbi Virus Corona. Mitos atau Fakta?)


Kontak sosial yang dimaksud berasal dari berbagai tingkat dan melibatkan semua kelompok masyarakat. Mulai dari kelompok sosial, ras, dan etnis.


Istilah social distance milik Bogardus ini kemudian diadaptasi oleh badan organisasi World Health Organization (WHO). WHO mengadaptasi istilah ini guna menurunkan angka risiko penyebaran virus corona, yang salah satu penyebabnya adalah kontak sosial. Social distancing a la WHO terbagi atas beberapa kategori.


Mulai dari jaga jarak minimal 1 sampai 1,5 meter dengan orang lain, hingga berhenti dari segala bentuk aktivitas sosial (mulai dari sekolah hingga bekerja). Kemudian pertanyaan baru muncul: mengapa melakukan social distancing penting untuk dilakukan?


Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, bahwa penyebaran virus corona bisa terjadi salah satunya adalah karena ada kontak sosial, antara manusia yang satu dengan lainnya. Jika ingin menurunkan angka risiko penyebaran virus corona, maka satu manusia dengan manusia lainnya tidak boleh ada kontak sosial.