×

Stay in The know

Style

Mengenal Istilah Post-Wedding Blues yang Kerap Dialami Pasca Menikah

Mengenal Istilah Post-Wedding Blues yang Kerap Dialami Pasca Menikah
Ayu Utami

Wed, 18 October 2017 at 20.02


Menurutnya, perempuan umumnya paling rentan terkena sindrom ini. “Mereka adalah sosok yang begitu sensitif terutama dalam hal perasaan, sehingga apabila ada sesuatu yang mengganjal, kesalahan dan menyinggung perasaannya setelah berumah tangga dengan suami, maka ia akan cenderung menutup diri yang akan membawanya terserang sindrom ini. Selain itu, perempuan biasanya memiliki intensitas kesibukkan yang lebih banyak dalam mempersiapkan pernikahan. Maka wajar saja, ketika hari raya terlewati, ia akan merasa hampa dan tidak tahu harus melakukan apa,” tambahnya.


Bagi Nadya, di negara Indonesia, fenomena ini masih jarang terjadi. “Ketika telah selesai dengan perayaan pernikahannya, they already had something else to look forward to. Misalnya mereka telah ada recana untuk punya anak, sehingga mereka akan fokus pada hal tersebut. Pengalihan pikiran dan rencana masa depan seperti inilah yang akan membuat seseorang terbebas dari jerat pos-wedding blues.


Walau begitu, tidak ada salahnya untuk meminimalkan peluang terjadinya post-wedding blues dalam diri Anda. Temukanlah target atau tujuan-tujuan lain yang ingin Anda dan suami capai. Itu merupakan salah satu cara untuk menghadapi kasus ini. “Menikah itu bukan hanya pestanya saja, tapi tentang membangun kehidupan pernikahan itu sendiri,” tutupnya. 


(Maghfira Farhana, foto: pxhere.com)


  • PAGE
  • 1
  • 2

You Might Also LIke