Stay in The know

Sex & Love

Eksklusif: Pakar Ini Ungkap Penjelasan Seputar Wanita dan Pornografi Dari Sisi Psikologi

Eksklusif: Pakar Ini Ungkap Penjelasan Seputar Wanita dan Pornografi Dari Sisi Psikologi


Cukup lucu saat GLITZMEDIA.CO mengajak 8 orang Glitzy untuk membicarakan pornografi (BACA: 8 WANITA BERBICARA TERBUKA PADA GLITZMEDIA.CO SEPUTAR PORNOGRAFI). Di satu sisi mereka menunjukkan rasa malu, namun di sisi lain ada ketertarikkan untuk membahas sisi-sisi yang seringkali masih dianggap tabu.

Sebelumnya, GLITZMEDIA.CO pun membuat survei kepada 100 orang Glitzy mengenai Women and Porn. (BACA: 100 WANITA INDONESIA MENJAWAB PERTANYAAN SEPUTAR WOMEN AND PORN). Hasilnya, cukup mengejutkan—sekaligus membingungkan.

Untuk menjawab kebingungan tersebut, GLITZMEDIA.CO akhirnya berhasil berdiskusi dengan Dr. (Cand). Baby Jim Aditya, M.Psi., Psikolog, C.I., C.Ht. selaku psikolog seks, untuk mendalami hasil survei tersebut. Beliau pun berhasil memberikan pemaparan dan sarannya berikut ini...


Question (Q):

Benarkah wanita masa kini lebih berani dalam mengakses konten berbau pornografi ketimbang dulu?

Answer (A):

“Jika dilihat dari sisi teknologi, jelas hal tersebut yang terjadi karena saat ini kita lebih mudah mengakses film atau bacaan porno daripada dulu. Namun jika dilihat dari kebutuhan seksual, saya rasa sama saja. Sebuah penelitian dari William James tahun 1980-an menunjukkan kalau jumlah pria dan wanita yang melakukan masturbasi adalah sama—baik melalui konten porno atau tidak.”


Q: Apakah benar jika secara psikologis hasrat seksual pria lebih besar ketimbang wanita?

A: “Penelitian yang saya sampaikan sebelumnya jelas menunjukkan kalau kebutuhan seksual pria dan wanita sama saja. Namun, pria dan wanita dibesarkan dengan cara yang berbeda sehingga pria lebih ekspresif dan agresif sementara wanita pasif. Ini membuat hasrat seksual menjadi tersalur dengan cara yang berbeda padahal kebutuhannya sama saja. Ada yang mengatakan, pria akan terus memiliki hasrat hingga usia lanjut sementara wanita tidak. Penelitian membuktikan bahwa keinginan seksual bukan dari kemampuan tubuh, namun perintah otak. Jadi karena wanita terbiasa pasif, otaknya yang membuat tubuhnya seolah tak bisa lagi berurusan dengan aktivitas seksual di usia lanjut.”



Q: Dari hasil survey, banyak yang menjawab bahwa mereka menonton film berbau porno sebagai edukasi seks. Bagaimana tanggapan Anda?

A: “Tentu konten pornografi tak bisa disamakan dengan konten edukasi seks. Jelas, film porno dibuat bukan untuk dijadikan media edukasi. Tujuan dari pembuatan tersebut adalah bisnis, uang, hiburan, dan visualisasi imajinasi, bukan untuk mengedukasi. Jika dikatakan bahwa film porno sebagai media untuk berimajinasi atau memahami fantasi, saya setuju—tapi tidak sebagai sarana edukasi.”


Q: Apakah perlu bagi seorang wanita untuk menonton film porno atau membaca konte porno?

A: “Kembali lagi pada diri masing-masing mengenai perlu atau tidaknya. Namun menurut pandangan saya, menonton pun diperlukan oleh seorang wanita. Ini akan membantu wanita untuk tidak pasif di tempat tidur. Ini ada kaitannya dengan pria. Biasanya, mereka akan memilih wanita baik-baik untuk dijadikan istrinya, namun di sisi lain mereka menyukai permainan wanita ‘nakal’ di tempat tidur. That’s why wanita perlu memahami imajinasi mereka, kan?”



Q: Dari hasil wawancara GLITZMEDIA.CO, banyak wanita yang menonton film porno dan berakhir dengan solo sex. Namun, mengapa banyak dari mereka yang lebih memilih mengatakan edukasi seks  daripada memuaskan diri saat ditanya alasannya mengakses konten porno?

A: “Norma, etika, nilai budaya, dan faktor-faktor sejenis membuat wanita tumbuh dengan lebih pasif—tidak seagresif dan seaktif pria. Jika di lingkungan pergaulan, pria lebih bebas untuk bercerita aktivitas seksualnya ketimbang wanita. Hal-hal inilah yang membuat wanita cenderung tertutup dengan aktivitas seksualnya. Wanita lebih melihat bahwa hal-hal terkait aktivitas seksual adalah hal yang sifatnya sangat pribadi sehingga enggan untuk bicara ‘blak-blakan’ soal seks.”


Q: Tepatkah jika film dan bacaan porno dijadikan sarana edukasi seks?

A: “Bagi saya kurang tepat karena, seperti yang saya katakan, tujuan pembuatan film dan bacaan porno bukan untuk mengedukasi, tapi lebih kepada hiburan dan fantasi saja. Mungkin bagi mereka yang menganggapnya edukasi sebenarnya lebih kepada mengetahui fantasi pria. Nah, untuk edukasi sendiri, banyak sarana yang ada untuk belajar seputar seksual seperti bacaan ataupun film, namun yang memang diciptakan untuk edukasi seks. Pembagian porsinya pun harus lebih pas, jangan terlalu banyak mengakses porno saja dan membaca konten edukasi seks sesekali. Seharusnya banyaklah membaca konten edukasi dan sesekali boleh menonton film porno sebagai hiburan dan variasi dalam hubungan.”


Q: Adakah manfaat secara psikologis untuk wanita dengan mengakses film dan bacaan porno?

A: “Ya. Pertama, seperti yang saya katakan, untuk memahami fantasi pasangan karena apa yang ada di film adalah gambar dari imajinasi. Kedua, untuk menyalurkan emosi-emosi tertentu terutama saat menjelang datang bulan. Rata-rata, wanita memiliki hasrat seksual yang tinggi saat pra-menstruasi. Karena seringkali tak tersalurkan, akibatnya perempuan cenderung moody, cranky, mudah marah, dan sebagainya. Namun, saya perlu tekankan bahwa film dan bacaan porno ini perlu diimbangi dengan edukasi seks dari konten edukasi sebenarnya agar tak terjadi kesalahan dalam memahami konten pornografi.”



Q: Adakah dampak buruk secara psikologis dengan mengakses konten porno?

A: “Jika tidak diimbangi dengan edukasi seks, tentu saja dapat berakibat buruk. Apa yang dilihatnya ditelan bulat-bulat sehingga punya pandangan yang salah. Misalnya saja soal orgasme. Seorang wanita pernah mengatakan pada saya bahwa ia tidak tahu apakah dirinya pernah mengalami orgasme saat berhubungan. Ia mengaku merasa puas, namun tidak bereaksi seperti apa yang ada dalam film porno. Saya katakan kepadanya, apa yang ada dalam film tersebut tentu bukanlah hal yang nyata—semua dilebih-lebihkan, termasuk dalam ekspresi saat orgasme. Intinya, jika tontonan atau bacaan porno tak diimbangi oleh edukasi seks, maka dapat terjadi ekspektasi berlebih, sulit merasa puas dengan hubungan yang terjadi dalam kenyataan, dan akhirnya bisa jadi lebih terpuaskan dengan pornografi daripada hubungan senggama dalam dunia nyata. Ini dapat berujung pada adiksi.”


“Saya rasa memang seharusnya sebagai orang dewasa, kita lebih bijak untuk menanggapi pornografi. Tak selalu membenarkan karena kita sudah dewasa atau menyalahkan karena dianggap melanggar norma. Untuk wanita pun, tetap butuh untuk mengakses konten porno asal seimbang dengan edukasinya. Jadi, tetap bisa memahami imajinasi pasangan dan memberikan warna dalam hubungan,” tutup psikolog seks yang aktif sebagai tokoh penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia ini.

(Shilla Dipo)

You Might Also LIke