Stay in The know

Sex & Love

8 Wanita Berbicara Terbuka Pada Glitz Media Seputar Pornografi

8 Wanita Berbicara Terbuka Pada Glitz Media Seputar Pornografi


Dilansir dari TheGuardian.com, jumlah wanita yang menikmati pornografi kian meningkat dari tahun ke tahun. Tak hanya itu, Glitz Media pun sudah melakukan survei terhadap 100 wanita dengan rentang usia 20 – 50 tahun dimana hasilnya cukup banyak wanita yang mengaku mengakses video dan bacaan yang mengandung unsur pornografi (BACA: 100 WANITA INDONESIA MENJAWAB PERTANYAAN SEPUTAR WOMEN AND PORN).

Sebenarnya, apakah wanita hanya mengakses pornografi untuk melepas rasa penasaran? Ataukah mengatakan jijik namun tetap menontonnya? Apa pula alasan wanita mengakses pornografi? Benarkah hanya sebagai bentuk edukasi seks? Ini dia hasil perbincangan Glitz Media dengan 8 Glitzy mengenai Women and Porn. Untuk kenyamanan responden, semua nama di bawah ini adalah samaran.


Jani, 34, Swasta, Memiliki Pasangan

“Buat saya film dan tulisan yang berbau pornografi diciptakan memang untuk melepaskan nafsu penontonnya. Jadi buat saya pribadi, menonton blue film—film porno—atau membaca cerita porno berfungsi untuk memuaskan diri sendiri. Tak selalu berakhir dengan solo sex, tapi kadang saya jadikan hiburan saja. Untuk saya pribadi nggak ada masalah dengan perempuan yang mengakses pornografi dan seharunya itu bukan hal yang menjadi pertanyaan karena sifatnya privasi—bukan hanya karena sekedar menjaga image.”


Dewi, 29, Pekerja Kreatif, Memiliki Pasangan

“Saya pribadi lebih suka menonton daripada membaca dan hal tersebut wajar untuk dilakukan baik oleh pria maupun perempuan. Biasanya saya melakukan hal itu saat sedang mood saja atau memang ada kebutuhan seksual namun tak bisa menyalurkannya. Selain untuk kebutuhan pribadi, saya rasa itu penting juga sebagai referensi dan inspirasi untuk melakukan hal tersebut bersama pasangan. Buat saya pribadi wajar kok, perempuan menonton atau membaca tapi saya nggak akan membicarakan detail pada lingkungan karena hal seperti itu tak untuk dikonsumsi secara publik.”


Sandra, 32, Penulis, Lajang

“Tidak pernah saya niatkan secara khusus, sih. Biasanya karena rasa penasaran saja saya menontonnya. Tak hanya itu, kadang saya juga menonton supaya tahu tentang hal-hal tersebut jadi bisa klik saat ada pembicaraan soal itu. Jika ditanya apakah saya akan solo sex saat menontonnya, itu bergantung pada bagaimana jalan cerita film. Kalau bersih dan memang terlihat ada koneksi perasaan di pemain, bisa saja berakhir dengan solo. Namun walaupun saya menonton, saya tak mau lingkungan tahu. Mungkin karena posisi saya masing single dan terkadang hal seperti itu tak lazim saja. Untuk perempuan, terutama yang sudah menikah, menonton atau membaca cerita porno perlu dilakukan untuk menghindari suami ‘jajan’.”


Alina, 26, Marketing, Memiliki Pasangan

“Sebenarnya saya agak jijik kalau melihat video porno tapi bukan berarti saya tak pernah mengakses konten berbau porno. Saya lebih suka saat melihat dalam bentuk animasi karena menghilangkan rasa jijik saya. Saat menontonnya pun saya bisa saja melakukan self service, meskipun tak selalu. Saya melakukannya saat bosan saja atau ketika hasrat seksual lagi meningkat. Untuk saya pribadi wajar dilakukan kok. Saya jadi merasa punya power lebih karena lebih tahu apa yang sebenarnya saya inginkan. Entah mengapa, saya merasa lebih percaya diri saat bersama pasangan. Mungkin karena saya jadi tahu apa yang bisa membuat pasangan—dan diri saya tentunya—happy.”


Tatiana, 29, Swasta, Menikah

“Saya merasa tak ada positifnya untuk melihat hal-hal porno untuk dilakukan oleh perempuan walaupun saya pernah melakukannya. Saya belum dapat melihat sisi positifnya dari melihat hal-hal seperti itu. Soalnya melihat atau membaca konten porno hanya akan membuat ketagihan atau solo sex. Hal tersebut malah bisa membuat pikiran pengakses menjadi negatif dan kotor. Bagi saya, perempuan tak perlu menonton hal-hal semacam itu karena kelak ia akan menjadi ibu. Bagaimana anak-anaknya menjadi pribadi yang baik ketiga ibu—pendidik pertama dalam hidup seorang anak—melakukan hal yang negatif seperti itu. Jika ada yang mengatakan bahwa tontonan atau bacaan yang mengandung unsur porno adalah edukasi seks, sejujurnya saya tak mengerti dimana letak edukasinya.”


Nimas, 25, Swasta, Lajang

“Sejujurnya saya belum pernah melihat video atau baca cerita porno secara sengaja. Biasanya teman-teman memaksa saya melihat kalau sedang ada skandal atau sesuatu yang booming. Saya tak merasa butuh dan kalau perempuan yang menonton lalu berlanjut ke self service agaknya nggak wajar,deh—walaupun saya tak mempermasalahkan karena kembali pada pribadi masing-masing. Soalnya perempuan dan laki-laki memiliki kebutuhan seksual yang berbeda. Saya pun memilih untuk tak perlu mengakses konten porno karena tidak merasa butuh dan lebih memilih untuk learning by doing saja. Lagipula setiap manusia punya naluri untuk melakukan hubungan seks, jadi tak perlu mempelajarinya dari konten porno.”


Ina, 27, Mahasiswa Magister, Memiliki Pasangan

“Menonton film porno biasanya saya lakukan saat pra dan pasca menstruasi. Saya merasa saat itu libido saya sedang berada di puncak sehingga menonton—yang dilanjutkan dengan solo sex. Tak hanya itu, buat saya menonton film porno atau membaca membuat saya tahu cara-cara tertentu dan inspirasi untuk melakukan bersama pasangan. Tak ada yang salah dengan perempuan yang melakukan hal seperti itu. Pada dasarnya perempuan dan laki-laki sama-sama membutuhkannya. Mungkin yang membedakan hanyalah intensitasnya saja. Saya pun tak ada masalah untuk saling bertukar cerita dengan teman-teman yang satu pemahaman. Jika berbeda pemahaman, saya lebih memilih untuk menutupinya karena tak mau di judge macam-macam atau mengganggu kenyamanan mereka.”


Lusi, 30, Swasta, Menikah

“Walaupun sepertinya pria selalu lebih diwajarkan, tapi bagi saya wajar kalau wanita juga mengakses konten porno, kok. Karena bagaimanapun juga, pria dan wanita punya kebutuhan yang sama. Saya biasanya menonton video porno untuk tahu berbagai variasi dalam melakukan hubungan percintaan dengan pasangan. Namun memang, menonton atau membaca konten porno perlu dibatasi. Biasanya ada kecenderungan untuk melihatnya lagi dan bisa menjadi addict dengan video tersebut—apalagi jika belum memiliki pasangan. Kalau sudah addict, pengakses tersebut justru jadi kurang menikmati jika melakukan hubungan seksual bersama pasangannya.


Lalu, apakah perlu wanita mengakses film dan bacaan pornografi? Untuk membahas topik ini lebih lanjut, Glitz Media secara eksklusif melakukan wawancara dengan Dr. (Cand). Baby Jim Aditya, M.Psi., Psikolog, C.I., C.Ht. selaku psikolog seks. BACA: EKSKLUSIF: PAKAR INI UNGKAP PENJELASAN SEPUTAR WANITA DAN PORNOGRAFI DARI SISI PSIKOLOGI. 

(Shilla Dipo, Images: Corbis)

Author:

You Might Also LIke

21+

Peringatan!

Konten khusus dewasa
Usia di bawah 21 tahun
DILARANG
membuka halaman ini
Back to Home