Stay in The know

Motherhood

Tsunami Selat Sunda: Tips Mengatasi Trauma pada Anak Setelah Bencana

Tsunami Selat Sunda: Tips Mengatasi Trauma pada Anak Setelah Bencana

Trauma bencana seperti tsunami Selat Sunda tidak hanya mempengaruhi orang dewasa namun juga anak Anda.

Durasi baca: 1 menit


Tsunami Selat Sunda yang terjadi pada Sabtu, 22 Desember lalu masih menyisakan duka mendalam bagi korban tsunami. Menurut data dari CNN TV, per hari ini jumlah korban yang berhasil didata adalah 373 orang meninggal, 1016 orang luka, dan menyebabkan lebih dari 10 ribu orang harus mengungsi ke tempat lebih aman. 

(BACA JUGA: Personil Band Seventeen Mengalami Gelombang Tsunami di Banten)


Hingga saat ini kemungkinan jumlah korban diperkirakan akan bertambah dan bala bantuan masih terus berdatangan untuk membantu korban terutama korban di pesisir Banten. 


Bagi orang-orang yang berhasil selamat dari suatu kejadian yang mengancam jiwa, hal tersebut tentu melegakan. Meski demikian, ada berbagai dampak lebih lanjut yang bisa jadi dialami oleh pada korban selamat. Tak hanya orang dewasa namun juga anak-anak. 


KEMAMPUAN MENGHADAPI TRAUMA

Setiap manusia memiliki ketangguhan untuk kembali bangkit dari trauma fisik maupun psikis. Namun, orang-orang yang pernah mengalami kejadian traumatis dalam hidupnya, tetap harus melewati proses pemulihan psikologis dalam jangka waktu yang sulit ditentukan.


“Untuk sembuh dari trauma ditentukan oleh banyak faktor, yang terpenting justru kekuatan dari dalam diri masing-masing orang,” ujar Nirmala Ika K. M.Psi., Psikolog dari Yayasan Pulih. 


Menurut Ika, ketika seseorang sulit tidur, selalu terbayang-bayang peristiwa pahit, dan masih ketakutan selama satu hingga dua minggu setelah peristiwa, hal itu merupakan trauma yang masih wajar. 


Meski demikian, sebagai seorang Ibu, Anda jangan menganggap sepele. Karena, anak memerlukan pendampingan dari orang-orang terdekat.

You Might Also LIke