×

Stay in The know

Motherhood

Tidak Boleh Diremehkan, Inilah 3 Gangguan Psikologis yang Menyerang Ibu Pasca Melahirkan

Tidak Boleh Diremehkan, Inilah 3 Gangguan Psikologis yang Menyerang Ibu Pasca Melahirkan
Mondials Anindhita

Sat, 2 November 2019 at 18.06

Kenali perbedaan 3 gangguan psikologis yang bisa terjadi pada ibu baru atau yang baru saja melahirkan.

Durasi baca: 1 menit.


Gangguan psikologis ternyata tidak hanya menyerang mereka yang sedang mengalami tekanan, tetapi juga rentan dialami oleh ibu pasca melahirkan. Menurut Vera Itabiliana, selaku psikologis klinis, sebanyak 20% perempuan di negara berkembang seperti Indonesia mengalami depresi.

(BACA JUGA: Mengenal Faktor Penyebab Baby Blues dan Cara Mengatasinya)


Kasus kematian pada bayi bisa menjadi salah satu akibat dari timbulnya gangguan psikologis ini. Sebelum berbicara lebih jauh lagi, sebaiknya Anda mengetahui 3 jenis gangguan psikologis yang kerap mengintai para ibu.


BABY BLUES

Menurut Vera, kondisi ini memilih presentase yang paling besar daripada sindrom lainnya. Sekitar hampir 80% perempuan di dunia mengalami baby blues. Ibu yang menderita gangguan psikologis jenis ini biasanya sulit mengontrol emosinya sehingga mudah naik dan turun.


Mereka lebih mudah tersinggung, marah, dan menangis tiba-tiba tanpa pemicu yang jelas. Namun, keadaan ini masih tergolong normal dan biasanya berjalan sekitar 2 minggu sampai 1 bulan.


POSTPARTUM DEPRESSION

Saat seseorang menderita baby blues sebaiknya segera melakukan terapi, karena jika tidak maka Anda bisa masuk ke fase lebih serius, yakni postpartum depression.


Pasien akan mengalami rasa cemas secara berlebihan, selalu merasa bersalah, muncul pikiran tidak mampu mengurus anak dengan baik, tidak mau menyusui, menghindar dan menjauh dari bayinya, hingga adanya keinginan untuk bunuh diri. Penderita postpartum depression memiliki jangka waktu lebih lama saat proses penyembuhan, yakni minimal 1 tahun.



(Foto: Freepik.com/jcomp)


POSTPARTUM PSIKOSIS

Gangguan psikologis yang satu ini memang terbilang langka dan jarang terjadi, karena probabilitasnya hanya 1:2 perempuan yang mengalami kondisi ini. Menurut Vera, penderita akan terjebak pada deprsi terparah, mereka tidak hanya menyakiti diri sendiri tetapi juga bayinya.


Pikiran halusinasi membuatnya ingin membunuh anaknya, karena sosok yang ia lihat adalah seorang yang menyeramkan dan memuatnya takut.


Maka jika Anda menemukan kasus ibu menyakiti hingga menghilangkan nyawa bayi, kemungkinan orang tersebut mengalami gangguan psikologis ini. Seorang yang terserang postpartum psikosis baru merasa menyesal ketika dirinya sadar, karena halusinasi hanya timbul sesaat dan tidak terjadi secara terus menerus.


(Elizabeth Puspa/Mondials Anindhita, foto: Freepik.com)

You Might Also LIke