×

Stay in The know

Motherhood

Ternyata Tidur Satu Ranjang Bersama Orangtua Bisa Memberikan Dampak Negatif pada Si Kecil

Ternyata Tidur Satu Ranjang Bersama Orangtua Bisa Memberikan Dampak Negatif pada Si Kecil
Mondials Anindhita

Sun, 1 December 2019 at 14.34

Hati-hati, membiasakan anak tidur bersama Anda hingga usia remaja, ternyata bisa memberikan dampak negatif.

Durasi baca: 1 menit.


Saat anak-anak berusia 0-2 tahun, mereka masih membutuhkan pengawasan yang ketat ketika waktu tidur tiba. Alasannya masuk akal, agar kondisi anak senantiasa aman, mudah ditangani ketika butuh bantuan, menenangkannya saat menangis, hingga menghindari anak terjatuh dari tempat tidurnya.

(BACA JUGA: Agar si Kecil Mau dan Berani Tidur di Kamarnya Sendiri, Lakukan Hal Berikut Ini)


Ketika anak sudah menginjak usia lebih dari 3 tahun di mana mereka sudah dilatih untuk mandiri, sebaiknya mulai biasakan mereka untuk tidur di kamarnya sendiri secara terpisah dari orangtua. Menurut survei yang dilakukan oleh Parenting’s MomConnection, sebesar 45% ibu membiarkan anaknya yang berusia 8-12 tahun untuk tetap tidur satu ranjang bersama orangtua. Bukan bermaksud mengurangi konektivitas antara Anda dan anak, tetapi biasakan si Kecil tidur sendiri untuk memberikan manfaat positif untuknya kelak.


Tak hanya itu, jika Anda membiasakan tidur satu ranjang dengan si Kecil, maka bisa memengaruhi bahkan memberikan dampak negatif padanya. Simak informasi di bawah ini.


TIDAK MANDIRI

Anak yang terbiasa tidur bersama orangtua cenderung tumbuh menjadi pribadi yang manja. Mereka tidak dapat mengatasi rasa takut dan cemasnya seorang diri, sehingga ia menjadi sangat bergantung pada Anda orangtuanya, terutama di malam tiba.


Jika dibiarkan anak tidak mandiri mengurus dirinya sendiri dan ini bisa terbawa sampai usia anak menginjak remaja.



(Foto: Freepik.com/tirachardz)


TIDAK ADA PRIVASI

Bertambahnya usia anak, mereka akan tumbuh dengan pemikiran dan masalahnya sendiri. Jika Anda tidak melatihnya untuk tidur sendiri secara terpisah, maka secara tidak langsung mereka akan kehilangan privasinya.


Kamar yang seharusnya menjadi area pribadi si Kecil untuk mencurahkan segala isi pemikiran dan perasaannya, kini menjadi sangat terbatas baginya. Alhasil, ia akan menjadi tertekan dan depresi, karena memilih diam serta menyembunyikan masalahnya di hadapan orangtua.

  • PAGE
  • 1
  • 2

You Might Also LIke