Stay in The know

Motherhood

Stop Lakukan “Skip Challenge” Yang Dapat Berujung Pada Kematian Anak

Stop Lakukan “Skip Challenge” Yang Dapat Berujung Pada Kematian Anak

Glitzy Mom, inilah saatnya mengedukasi anak agar tidak terlibat melakukan “skip challenge”.

Kelakuan anak remaja saat ini memang sangat memprihatinkan. Tindakan yang mereka lakukan terkadang dianggap sepele namun ternyata membahayakan kesehatan hingga berujung pada kematian. Jika menoleh sejenak ke sosial media, dewasa ini banyak remaja yang gemar melakukan “skip challenge”. Perbuatan ini sangat tidak direkomendasi untuk dilakukan.

Sebagai orangtua, Glitzy Mom hendaknya melakukan beragam tindakan preventif untuk menghentikan skip challenge tersebut. Menurut Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Rumah Sakit Harapan Kita, Yoga Yuniadi, biasanya orang yang melakukan skip challenge akan berusaha menekan dada rekannya dengan keras untuk menghambat jalur pernapasannya. Akibatnya, sang korban akan mengalami kejang-kejang, pingsan, hingga kematian.

“Penekanan dada yang cukup keras untuk menghalangi upaya napas, dapat mengubah pola denyut jantung. Jadi akibatnya kadar oksigen darah menurun. ketika seseorang mengalami hipoksia, yang pertama kali akan terdampak adalah bagian otak. Kekurangan oksigen di bagian otak itulah yang menyebabkan penurunan kesadaran hingga kejang. Akibat fatalnya, hipoksia bisa menyebabkan kerusakan otak. Hipoksia otak bila terjadi 4 menit akan menyebaban kerusakan otak yang bersifat permanen,” ungkapnya seperti yang ditulis dalam Kompas.com.

Skip challenge sebenarnya paling banyak dilakukan oleh remaja. Mereka mengetahui apa yang dilakukan tersebut berbahaya bagi kesehatannya, namun karena takut dianggap sebelah mata oleh rekannya dan terus mendapatkan tekanan, akhirnya mereka nekat melakukannya. Sebagai orangtua Anda sebaiknya mampu menjadi pihak penengah yang mampu melarang buah hati melakukan hal tersebut.

Anda bisa memberikan edukasi untuk anak-anak sejak dini, bahwa perilaku yang tengah viral di sosial media hendaknya jangan ditiru. Berikan pengetahuan akan efek buruk bagi kesehatan yang mampu mengancam nayawanya. Glitzy Mom juga dapat mengajak kerjasama pihak sekolah agar pengawasan dilakukan secara ketat. 

(Elizabeth Puspa, Image: Berbagai Sumber)

Author:

You Might Also LIke