×

Stay in The know

Motherhood

Sosialisasi Pemerintah Pada Ibu Dan Guru Untuk Hindari Jajanan Tak Sehat Pada Anak

Sosialisasi Pemerintah Pada Ibu Dan Guru Untuk Hindari Jajanan Tak Sehat Pada Anak
Saskia Damanik

Fri, 18 September 2015 at 03.50


Saat anak  sudah mulai memasuki jenjang sekolah—dari TK menuju SD—tak berarti sang ibu mulai angkat tangan memerhatikan perilaku dan kesehatannya. Seperti yang kita tahu, lingkungan tempat anak berada—selain di rumah—membuat orangtua lebih sulit mengontrol apa yang dikonsumsinya. Banyaknya jajanan yang tersedia di sekolah—baik di kantin maupun di luar lingkungan sekolah—yang mengandung bahan kimia berbahaya bagi tubuh, tentu menjadi concern setiap orang tua.

Dr. Kanti Herawati, selaku Kepala Bidang SD dan PLB Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, menekankan kepada para ibu dan guru di Indonesia untuk turut ikut ambil bagian membantu pemerintah dalam upaya pengawasan nutrisi pada anak. Hal ini akan berpengaruh besar pada tingkat kualitas SDM di Indonesia.

“Anak-anak didik adalah investasi bangsa, generasi penerus negara, sehingga kualitas SDM harus dilakukan sejak dini, untuk mendapatkan anak bangsa yang berakal sehat dan cerdas. Oleh karena itu, pola hidup dan makanan menjadi penting untuk diperhatikan demi perkembangan mereka,” tegas Dr. Kanti.

Banyak PR yang harus dilakukan para ibu, guru di sekolah, termasuk pihak kantin, agar lebih peduli dan pintar memilah jajanan yang baik dan sehat untuk anak-anak. Warna makanan dan minuman yang terang, serta mencolok sering kali dipilih para murid, padahal makanan/minuman yang seperti ini mengandung zat berbahaya untuk tubuh.

Menurutnya, ditemukan sebanyak 44% jajanan di sekolah yang tidak baik dikonsumsi, karena mengandung banyak zat adiktif, seperti borax, formalin, dan masih banyak lagi. Mengerikan, bukan?

Pihak sekolah sendiri seharusnya bisa berperan dan tegas dalam menetapkan peraturan pada penjual di kantin, serta menyediakan sarana dan prasarana yang cukup di sekolah, seperti wastafel dan kantin yang bersih.

Para ibu sendiri pun harus lebih membuka pikirannya dan cermat memilih makanan untuk anaknya. Jika orangtua dan sekolah tidak dapat bekerja sama dengan baik, maka hal ini dirasa percuma saja. Sikap cuek dan tidak mau peduli terhadap nutrisi anak harus disingkirkan dari sekarang. Jangan heran kalau sampai saat ini gizi anak di Indonesia masih rendah. 

Karena itu, Glitz Media mengajak Glitzy yang berperan sebagai ibu untuk lebih waspada dan peduli akan pola makan dan hidup anak. Ubah kebiasaan makan pada anak dengan memberikannya makanan sehat, membatasinya jajan—dan harus dalam pengawasan Anda, juga memerhatikan nutrisi yang terkandung pada makanannya.


(Elizabeth Puspa, Image: Corbis)

You Might Also LIke