×

Stay in The know

Motherhood

Sibling Bullying: 6 Cara untuk Menghindarinya. Orangtua Harus Tahu!

Sibling Bullying: 6 Cara untuk Menghindarinya. Orangtua Harus Tahu!
Anggia Hapsari

Wed, 29 January 2020 at 18.06

Saling mengutarakan pendapat, berselisih, konflik, hingga sibling bullying dapat terjadi pada kakak dan adik. 

Durasi baca: 1 menit 


Konflik ini terjadi tidak hanya pada saat mereka remaja. Namun dapat terjadi di usia batita dan balita. Hubungan kakak adik memang sangat unik dan kompleks. Bisa dekat, hangat, tetapi dapat juga diwarnai konflik dan rivalitas. 


Yang perlu Anda waspadai adalah jangan sampai rivalitas ini bermuara pada sibling bullying.  Pada dasarnya, sama dengan bullying yang terjadi antar teman. Kondisi bullying yang terjadi di antara kakak dan adik selalu melibatkan 3 aspek: kekuatan tidak seimbang, terjadi secara terus menerus, dan kecenderungan untuk saling melukai atau merugikan pihak lain. 

(BACA JUGA: Dampak Negatif Ketika Anak Sering Melihat Orangtua Bertengkar)


Menurut Prof. Mark Kiselica, Health Psychology, Clinical Psychology, and Educational Psychology dari Universitas Cabrini, hal tersebut sangat berbeda dari rivalry. 


WASPADA SIBLING BULLYING DAPAT TERJADI 

Biasanya, sibling bullying sering terjadi pada anak yang lebih besar yaitu pada kakak, bukan pada adiknya. Sibling bullying terjadi pada kakak, minimal saat dia duduk di bangku SD. 


Pada usia ini, umumnya orangtua cenderung lebih memerhatikan adik yang masih kecil. Orangtua sering mengganggap bahwa adik masih belum mengerti apapun. 



Menurut Prof. Kiselica, saat terjadi konflik, orangtua cenderung lebih membela si adik, sehingga terkadang membuat si Kecil ‘merajalela’ dan merasa bahwa ia akan mendapatkan apapun yang ia minta.


Sibling bullying ini cenderung lebih sulit dan akan memengaruhi kondisi psikologis anak saat ia dewasa. Dampak jangka pendeknya, salah satu anak tentu menjadi lebih mudah stres. Tentu saja, karena proses bullying terjadi saat di rumah dan tidak dapat dihindari.  


Agar terhindar dari sibling bullying, tugas orangtua mendidik dan mendampingi anak tentu bertambah. Jangan hanya cuek saat melihat kondisi kakak adik yang sedang bertengkar. Anda berdua harus lebih waspada.  Berikut ini beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk menghindari dan mengatasi sibling bullying:

(BACA JUGA: Begini Cara Mengajarkan Anak Arti Kemenangan dan Kekalahan)


JANGAN MEMBANDINGKAN KAKAK DAN ADIK 

Anda boleh saja mengatakan bahwa kakak hebat karena sudah menghabiskan makanan bekal sekolahnya. Namun jangan menambahkan kalimat, “Adik bagaimana? Kok, tidak dihabiskan bekalnya seperti Kakak?”. 


Lebih baik Anda katakan, “Mengapa bekalmu tidak habis? Apakah kamu kekenyangan?”. Dengan mengajukan pertanyaan ini, Anda dapat mengetahui minat anak dan membantunya menghabiskan bekal makanannya. Masing-masing anak pun merasa diperhatikan.


CARILAH SISI POSITIF MASING-MASING ANAK 

Sebisa mungkin, temukan minat yang berbeda dari masing-masing anak Anda. Kalaupun sampai sama atau hampir mirip, carilah kekhasan masing-masing anak. Dengan demikian, anak Anda akan mengetahui perbedaan dan kelebihan dirinya untuk saling melengkapi antar bersaudara.


TAK PERLU HARUS SELALU TERLIBAT JIKA ANAK SEDANG BERTENGKAR 

Biarkan anak menyelesaikan permasalahannya sendiri. Namun jika terjadi topik pertengkaran yang sama secara terus menerus, biasanya akan ada salah satu pihak yang terlihat lebih lemah dan kalah. Inilah tandanya sudah terjadi bullying.  



Pada saat ini terjadi, orangtua perlu menegaskan aturan-aturan dasar dan aturan tambahan yang perlu disepakati dan, terutama, ditepati oleh masing-masing anak.  


BUATLAH ATURAN DAN MINTALAH UNTUK DITEPATI 

Semakin jelas aturan yang Anda buat, maka semakin jelas aturan yang harus dilakukan oleh kakak dan adik. Misalnya, tidak boleh merebut barang jika yang memegang barang pertama kali adalah adik atau kakak. 


Jika barang tersebut sudah dipegang oleh kakak atau adik, maka anak yang belum memegang barang harus menunggu untuk mendapatkan giliran barang yang akan dimainkan.  Tidak boleh merebut paksa. Jika salah satu anak merebut paksa, maka anak itu akan diberi hukuman time out oleh Anda atau pasangan. Jangan lupa untuk menyepakati jangka waktu mereka melakukan time out. 


JANGAN CEPAT MENJULUKI SALAH SATU ANAK, BERUSAHALAH MENDENGARKAN SEMUA PIHAK 

Contohnya, jika yang paling sering memulai perkelahian adalah adik, jangan langsung menuduh jika adik yang selalu paling iseng atau malah memberikan julukan: si Iseng. 



Dengarkan alasan versi kakak dan adik. Jika terjadi ketidakselarasan, tanyakan kembali ke semua pihak, termasuk kepada asisten rumah tangga hingga nenek yang sedang berada dekat dengan anak-anak. 


INGATKAN PERAN MEREKA  

Rumah merupakan tempat berteduh dan setiap anggota keluarga wajib menjaga ketenangan suasana  rumah. Seluruh keluarga harus menyepakati perannya dan saling menegur jika dianggap keluar jalur. 


Misalnya peran kakak adalah menahan diri dan tidak mencela adik. Sedangkan adik berperan untuk menjaga ketenangan, mau berbagi makanan dan mainan, serta lebih hati-hati agar tidak ditegur oleh siapapun. Sesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anggota rumah tangga.   

(Anggia Hapsari, foto: Pexels.com/ Eileen Lamb/ Jessica West)


You Might Also LIke