Stay in The know

Motherhood

Selamat Hari Anak Nasional, Dari Abhy, Anak Penyandang Autis, Untuk Indonesia

Selamat Hari Anak Nasional, Dari Abhy, Anak Penyandang Autis, Untuk Indonesia

Simak wawancara eksklusif tentang kisah inspiratif dari anak penyandang autis yang menoreh banyak prestasi.

Setiap anak memiliki cerita masing-masing, begitu pula Made Dwara Abhy. Pria yang akrab dipanggil Abhy ini memang sekilas tak lagi bisa disebut anak-anak, karena secara fisik usianya sudah menginjak 21 tahun. Namun secara usia sosial, mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta ini masih berada di umur belasan tahun. Ya, Abhy adalah anak dengan kebutuhan khusus—penyandang autisme. Secara eksklusif GLITZMEDIA.CO mewawancarai sang ibu, Dewi Semarabhawa.

BACA JUGA: Eksklusif: Dewi Semarabhawa Berbagi Tip Untuk Mengasuh Anak Berkebutuhan Khusus


Abhy Kecil

Abhy kecil merupakan anak yang cepat sekali berjalan. Ia bahkan sudah dapat berlari kecil di usia 10 bulan. Untuk urusan makan, ia cenderung tidak ‘pickie’ alias pemilih. “Setiap ‘disuapin’, ia selalu semangat makan—apapun makanannya,” jelas Dewi Semarabhawa, ibu dari Abhy. Pria kelahiran 30 Januari 1995 ini juga terlihat sangat terorganisir dari kecil—dengan jam makan, buang air, dan tidur yang pasti. Pantas jika si bungsu dianggap sebagai anak yang tak merepotkan.


Berawal dari Demam Tinggi

Masa kecil Abhy dihabiskan di Kalimantan. Saat itu, air bersih justru bukan didapat dari PAM—karena air yang kotor. Air bersih didapatnya dari air hujan yang sangat jernih. “Karena saya pikir hidup di sana agak kotor pada saat itu, maka wajar kalau Abhy sakit dan langsung saya ajak ke dokter,” cerita Dewi.

Kala itu, sang dokter mengatakan bahwa Abhy mengalami gejala tifus, meskipun tingkah laku yang tak biasa tetap terus ditunjukkan. “Saat diambil darah, ia tak menangis sama sekali padahal usianya masih 2 tahun,” lanjut wanita yang hobi menari ini. Demam tinggi yang dialami Abhy menjadi titik balik bagi Dewi untuk segera membawanya ke Jakarta—terlebih ayah dari Dewi selalu membandingkan perkembangan Abhy dengan salah satu anak dari saudaranya yang memiliki usia berdekatan dengan Abhy.



(Abby bersama sang ibu (kiri) berfoto bersama teman-temannya)

Diagnosa Abhy

Abhy ke Jakarta untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Berbagai pemeriksaan ia jalani dan belum ada nama penyakit yang terlontar dari dokter. Salah seorang dokter hanya menyampaikan bahwa nantinya, Abhy harus mendapatkan pendidikan dari sekolah berkebutuhan khusus. 

“Saya langsung ke salah satu SLB (Sekolah Luar Biasa) dan menemui kepala sekolahnya. Saya tanya apakah nantinya anak saya bisa sekolah di situ dan apa yang perlu saya persiapkan,” kenang Dewi. “Ia menyarankan saya ke Sekolah Budi Waluyo karena SLB itu menangani anak-anak Down Syndrome, tuna netra, dan tuna rungu. Saya langsung sambangi ke Budi Waluyo dan di sana saya mendapat pernyataan mengejutkan. Abhy diduga mengidap autisme.”


(BACA JUGA: Eksklusif: Curhat Seorang Ibu Yang Berjuang Mengasuh Anaknya dengan Kebutuhan Khusus)


Potensi Abhy

Awalnya, Abhy kecil tak bisa menggerakkan tangannya. Ia hanya dapat mengacungkan kedua ibu jarinya. Beruntung, ia memiliki ibu yang tak pernah berhenti berpikir kreatif untuk membantu tumbuh kembangnya. Ia pun diajarkan bermain keyboard secara perlahan untuk menyeimbangkan otak kanan dan kiri. Perlahan, tangan Abhy pun mulai dapat bergerak dan ia sangat menyukai suara yang dihasilkan saat tuts keyboard dimainkan.

Menginjak usia SD, salah seorang guru di sekolah sengaja dijadikan guru privat untuk Abhy. Setiap sesi privat, Abhy memiliki waktu 60 menit di mana 45 menit pertama diisi dengan belajar membaca, menulis, dan berhitung, sementara 15 menit terakhir digunakan sang guru untuk bermain musik. “Kebetulan gurunya juga bisa bermain keyboard dan Abhy senang banget saat mendengarkan musik. Ia suka menari-nari,” cerita wanita yang mengenakan kemeja putih ini saat dijumpai oleh GLITZMEDIA.CO di kawasan Bintaro. 

“Sepertinya sambil menikmati musik yang dimainkan gurunya, Abhy juga memerhatikan cara memainkannya, karena tiba-tiba saja gurunya memanggil saya dan mengatakan kalau Abhy memainkan lagu yang cukup sulit. Inilah awal potensi Abhy di dunia musik terlihat,” lanjutnya. Untuk mengasah kemampuannya, ia pun masuk ke sekolah musik.




Selalu Optimis

Nampaknya, keterbatasan Abhy hanya dilihat oleh masyarakat di sekelilingnya—namun ia tak pernah melihat hal tersebut. Buktinya, ia selalu optimis dalam menghadapi berbagai kompetisi musik yang diikutinya. “Ia selalu punya harapan menang dan untungnya, ia sering sekali menang,” kata Dewi. Abhy selalu optimis bahwa dirinya bisa. Autisme membuatnya fokus dalam mengerjakan sesuatu dengan daya hafal yang cukup tinggi. Inilah yang menjadi modal Abhy dalam mengikuti berbagai lomba. Gengsi, minder, dan takut, nampaknya tak pernah muncul dalam benaknya—sama sekali.

Akibat sikap optimisnya, Abhy banyak memperoleh penghargaan mulai dari bidang musik hingga IT. Hebatnya lagi, Abhy memiliki daya memprediksi yang sangat kuat. “Ia sepertinya bisa menilai dirinya sendiri sehingga prediksi akan posisinya dalam suatu perlombaan dapat ia ketahui dan jarang sekali meleset,” cerita Dewi dengan bangga.


Abhy dan I’m Star

Awalnya, Abhy seringkali mengisi acara bersama salah seorang temannya yang juga mengidap autisme. Intensitas Abhy dalam mengisi acara membuat banyak pihak yang menginginkannya mengisi berbagai acara, hingga salah seorang penyelenggara menanyakan pada Dewi apakah ia bisa membentuk band. Dewi menyanggupi dan memposisikan Abhy sebagai keyboardis, Arya sebagai vokalis, Ervita sebagai drummer, dan Shinta sebagai bassist. Istimewanya, semua personel band bernama I’m Star ini adalah penyandang autisme.

Bersama I’m Star, Abhy mendapat berbagai penghargaan, salah satunya sebagai The Most Touching Voice Award dan Excellent Performance di acara Anan Autisting Talent 2015 di Hongkong. Tak hanya itu, kisah dari keempat personel pun telah menjadi inspirasi dari film berjudul “I’m Star” yang diperankan oleh mereka berempat. 

Hasilnya, film ini juga memperoleh berbagai penghargaan, salah satunya di ajang Oregon International Film Awards, sebagai film dengan skenario terbaik. Hal ini membuat mereka tak hanya berhasil memboyong banyak penghargaan, namun juga mematahkan anggapan banyak orang yang menganggap autisme tak bisa bersosialisasi.




Abhy Saat Ini

Pria yang pernah memenangkan kompetisi Typing Master—dengan kecepatan mengetik 60 kata per menit—ini kini tengah menyelesaikan tugas akhirnya di kelas D3 Jurusan Komputer Politeknik Negeri Jakarta. “Ia pun mendapat kesempatan untuk mengikuti program magang di Astra,” ucap sang ibu. Dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, Abhy pun sudah mampu mengontrol dirinya dengan sangat baik. Ia pun mampu hidup mandiri dengan selalu bangun tepat waktu, memasak berbagai menu, hingga berpenghasilan melalui kelihaiannya dalam bermain musik—keyboard, bass, drum, dan saxophone.

Pada Hari Anak Nasional ini, sudah sejatinya Glitzy Mom menyadari bahwa setiap anak pasti memiliki potensi. Sebagai orangtua, ini adalah tugas kita menyadari serta memfasilitasi potensi tersebut agar kelak anak-anak dapat menjadi sosok yang membanggakan. “Setiap anak punya keistimewaannya masing-masing, bagaimanapun kondisinya. Jangan pernah memandang anak dengan sebelah mata—apapun keadaannya,” tutup Dewi pada GLITZMEDIA.CO.

(Shilla Dipo, Wawancara: Shilla Dipo & Elizabeth Puspa, Images: GLITZMEDIA.CO, Dok. Dewi Semarabhawa)

Author:

You Might Also LIke