Stay in The know

ads

Motherhood

Pilih Mana: Karier atau Keluarga?

Pilih Mana: Karier atau Keluarga?


Bukan hal mudah memang dihadapkan pada pilihan tetap berkarier atau fokus pada keluarga. Hal ini kerap kali menjadi dilema untuk hampir semua wanita bekerja yang juga berperan sebagai ibu. Apalagi, nih, stereotip bahwa wanita sebaiknya mengurus rumah tangga saja, mulai terpatahkan secara perlahan seiring kemajuan zaman.  

Intinya, apapun pilihannya kembali ke presepsi setiap orang. Tak perlu membandingkan diri dengan orang lain lain. Fokuskan apa yang penting dan sudah menjadi pilihan Anda. Glitz Media membantu memberikan paparan agar nantinya Glitzy lebih yakin menjalani pilihan tersebut.    


Tetap Berkarier, Seimbangkan Pekerjaan Dengan Keluarga 

Berkeluarga bukan penghalang untuk berkarier. Sebaliknya, memilih berkarier pun jangan disalahartikan dengan mengesampingkan keluarga (dan anak). Jika Glitzy merasa bisa menyeimbangkan keduanya, kenapa tidak? Inilah yang menjadi alasan seorang wanita memilih memprioritaskan keduanya.

  • Menurut poling yang dilakukan situs www.oprah.com terhadap 15.000 wanita, hasilnya mengatakan 90% ibu memilih tetap bekerja karena alasan finansial. Glitzy ingin membantu suami untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. 
  • Meniti karier hingga mendapatkan posisi/jabatan tinggi bukanlah hal mudah. Jika karier sedang di puncak, sayang meninggalkan karier begitu saja. Apalagi, Glitzy tipe wanita aktif yang multitasking, bisa membagi waktu, dan bisa menyeimbangkan diri antara karier dan keluarga. 
  • Memiliki keluarga atau saudara yang bisa dipercaya untuk membantu menjaga dan mengasuh anak Anda.

KONSEKUENSI 

Waktu tak bisa berputar kembali, karena itu sudah tentu sedikit banyak Glitzy akan kehilangan beberapa momen penting dalam perjalanan pertumbuhan dan perkembangan anak.  Rasa kangen, khawatir, dan kepikiran kepada anak akan sering Glitzy alami. 

SOLUSI 

Berdiskusilah dengan suami. Jika suami mengerti posisi Anda, akan lebih nyaman buat Glitzy ketika menjalankan pekerjaan kantor. Tanpa harus diingatkan suami, Glitzy pun harus sadar akan tanggung jawab dan peran sebagai ibu. 

Pintarlah membagi waktu antara pekerjaan kantor dengan keluarga. Hindari melakukan pekerjaan kantor di rumah, fokuskan perhatian dan waktu Glitzy bersama keluarga dan anak di rumah. 

Luangkan waktu bersama keluarga dan anak saat akhir pekan atau hari libur. Manfaatkan momen ini untuk mendekatkan diri dengan anak dan membayar waktu yang hilang ketika Anda bekerja. 

Memiliki orang tua, saudara, babysitter—termasuk menggunakan jasa daycare—yang dipercaya memang baik, tapi bukan berarti Glitzy menyerahkan 100% tanggung jawab merawat dan mengasuh anak kepada mereka. 


Tinggalkan Karier, Fokus Pada Keluarga

Menikmati masa menjadi seorang ibu mungkin salah satu tujuan Glitzy menjalani kehidupan pernikahan. Selain itu, ada beberapa alasan yang membuat wanita memilih meninggalkan kariernya. 

  • Glitzy ingin menjadi orang pertama yang menjadi saksi dan tahu perkembangan anak. Melihat si kecil merangkak, berjalan, hingga berbicara pertama kali adalah momen indah tak terlupakan untuk Anda. 
  • Tak memiliki orang tua atau saudara yang bisa membantu menjaga dan mengasuh anak Anda. Apalagi Glitzy bukan tipe wanita yang mudah mempercayakan anak pada orang lain selain keluarga dekat.  
  • Keluarga tak memiliki masalah dalam hal finansial. Suami bisa menyokong 100% kebutuhan hidup Anda dan keluarga.   
  • Tak ada peningkatan pada karier Glitzy, secara kebetulan Anda pun tak memiliki ambisi besar pada posisi/jabatan tertentu. 
  • Tak bisa membagi waktu, karena pekerjaan yang Glitzy jalani memerlukan mobilitas tinggi. 
  • Anak Anda mengalami gangguan kesehatan yang membutuhkan penjagaan khusus dan intensif.

KONSEKUENSI

Menurut situs oprah.com, 72% wanita merasa lebih sulit mengurus rumah tangga dan mengasuh anak daripada bekerja di kantor. Tak mudah memang menjalani profesi sebagai seorang ibu. 

Krisis percaya diri dan sindrom baby blues memungkinkan terjadi pada kehidupan Anda. Melewati masa 3-6 bulan, bisa jadi Glitzy mulai merasa bosan dengan rutinitas yang sama dan akhirnya mulai membandingkan diri dengan teman-teman lain yang kariernya makin sukses dan memiliki ‘me time’ yang lebih banyak. 

SOLUSI

Nikmatilah masa-masa suka duka menjadi ibu yang mungkin tak bisa Anda lalui kembali. Dengan memprioritaskan keluarga, Glitzy bisa memfokuskan diri pada perkembangan dan pertumbuhan anak sedari dini. 

Jangan mau menjadi ibu yang kuper, Glitzy. Anda tetap bisa meng-update informasi dan perkembangan zaman melalui dunia informasi digital dan sosial media. Intinya, Glitzy harus eksis sebagai ibu muda yang modern. 

Lepas dari masa ASI atau golden period, Glitzy bisa mengambil pekerjaan paruh waktu (sebagai freelancer) untuk mencegah kebosanan dan mengembangkan kemampuan yang Anda miliki.

(Elizabeth Puspa/Saskia Damanik, Image: Corbis)

You Might Also LIke