×

Stay in The know

Motherhood

Kenali Resiko Diabetes Gestasional Yang Rentan Terjadi Pada Ibu Hamil

Kenali Resiko Diabetes Gestasional Yang Rentan Terjadi Pada Ibu Hamil
Saskia Damanik

Thu, 27 August 2015 at 00.19


Faktanya, penyakit diabetes adalah salah satu yang paling mematikan di seluruh dunia. Faktor genetik, usia, etnis, serta gaya hidup adalah penyebab utama dari munculnya diabetes pada seseorang. (BACA: 8 MITOS TENTANG DIABETES YANG PERLU ANDA KETAHUI KEBENARANNYA)

“Penyakit diabetes ini memiliki tiga macam yaitu diabetes tipe 1 yang disebabkan oleh faktor genetik, diabetes tipe 2 yang disebabkan oleh pola hidup yang tidak sehat, serta diabetes gestasional yang terjadi pada wanita di masa kehamilan,” kata Prof. Dr. Agung Pranoto , dr., MSc., SpPD-KEMD, FINASIM (Pakar Diabetes). Tipe diabetes ketiga inilah yang bisa menyebabkan resiko pada keselamatan bayi serta ibu. Jika tidak terditeksi dini, akan banyak resiko yang mengancam kehamilan Anda.

Diabetes gestasional adalah penyakit yang disebabkan oleh tingginya gula darah selama masa kehamilan. Setidaknya terdapat satu pasien yang mengalami diabetes gestasional dari 25 kehamilan di seluruh dunia. Angka ini bisa saja terus meningkat jika tingkat kesadaran dari calon ibu rendah. Sebenarnya, diabetes tipe ini biasanya menghilang dengan sendirinya seusai masa kehamilan. Namun jika Anda mengalaminya saat hamil, maka resiko Anda dan bayi untuk mengidap diabetes tipe 2 menjadi lebih besar. Lalu, apa saja resiko dari tipe diabetes ini?


Resiko Pada Calon Ibu

  • Pre-eklampsia

Pre-ekslampsia adalah sindrom yang ditandai dengan tekanan darah tinggi, kenaikan kadar protein di dalam urin, dan pembengkakan pada tungkai. Hal ini dapat ditandai dengan  sakit kepala pada daerah dahi, rasa nyeri pada daerah antara perut dan dada, gangguan penglihatan, rasa mual, gangguan pernapasan, dan gangguan kesadaran.

  • Persalinan prematur

Biasanya, anak yang lahir prematur memiliki resiko kesehatan yang lebih besar daripada bayi yang lahir normal.

  • Cairan ketuban berlebihan (hidramnion)

Pada ibu yang mengalami hidramnion, jumlah air ketubah bisa mencapai angka 4–5 liter. Ini menyebabkan diafragma tertekan sehingga ibu akan mengalami sesak napas. Selain itu, ibu yang mengalami hal ini juga akan mudah merasa mual hingga muntah, perut yang lebih besar dari ibu hamil normal, meningkatnya tekanan darah, mengalami pecah-pecah di sekitar kulit perut, kontraksi sebelum waktunya, hingga kemungkinan janin cacat saat lahir.

  • Infeksi saluran kemih

Ibu akan mengalami rasa terbakar saat buang air kecil, menjadi sering buang air kecil, rasa nyeri saat buang air kecil, sakit pada tulang kemaluan atau punggung bawah, hingga demam. Selain itu, biasanya urin akan tampak berdarah bahkan mengandung nanah pada penderita infeksi saluran kemih.

  • Infeksi vagina 

Ibu akan rentan mengalami infeksi vagina berupa keputihan karena jamur yang berulang.




Resiko Pada Calon Bayi

  • Pertumbuhannya terhambat

Sehingga ada kemungkinan terjadinya cacat pada bayi. Bagi ibu yang mengalami diabetes gestasional, peluang anak lahir dengan keadaan cacat adalah tiga kali lebih besar dari ibu dengan gula darah normal.

  • Lahir besar atau giant baby

Giant baby–atau makrosomia–adalah kondisi di mana bayi lahir dengan bobot terlalu berat. Pada sebagian kasus, bayi bisa mencapai berat 4,5kg hingga 10kg.

  • Gangguan pernapasan

Tingginya gula darah pada ibu menyebabkan terhambatnya kerja hormon kortisol yang berfungsi mematangkan paru-paru janin. Inilah yang menyebabkan paru-paru belum sempurna meski usia kandungan sudah mencapai 38 minggu, sehingga saat lahir bayi akan sering mengalami sesak napas.

  • Kematian mendadak di kandungan

Ini disebabkan banyaknya kandungan asal laktat karena kadar gula dalam darah ibu tidak terkontrol. Akibatnya, oksigen yang masuk ke janin menjadi terhambat dan membuat janin tidak dapat bertahan hidup.

  • Resiko mengalami diabetes tipe 2

Karena janin ikut mengalami kelebihan kadar gula dalam darahnya seperti sang ibu, maka bayi tersebut memiliki resiko diabetes tipe 2 lebih besar daripada janin yang ada dalam kandungan ibu yang sehat. 


Untuk mencegah hal tersebut, Anda harus memeriksa rutin kondisi kesehatan Anda, khususnya jumlah gula darah. (BACA JUGA: HINDARI RESIKO MENGIDAP DIABETES TIPE 2 DENGAN GAYA HIDUP CERDIK). Jika Anda sudah mengalami riwayat diabetes sebelum kehamilan, ada baiknya Anda melakukan terapi insulin. Namun jika Anda tidak memiliki riwayat penyakit diabetes, maka Anda perlu dilakukan screening—yang dilakukan atas persetujuan dokter—pada usia kehamilan 24 minggu. Penanganan yang tepat akan menjaga kesehatan Anda serta janin selama masa kehamilan hingga proses kelahiran.

(Shilla Dipo, Images: Corbis)

You Might Also LIke