Stay in The know

Motherhood

Jangan Mengaku Dekat Secara Batin Dengan Anak Jika Belum Melakukan 6 Hal Ini

Jangan Mengaku Dekat Secara Batin Dengan Anak Jika Belum Melakukan 6 Hal Ini

Bangun kembali relasi dan ikatan batin dengan sang buah hati dengan cara yang diungkapkan oleh ahli ini. 

Sebelum sekolah, rumah adalah tempat pertama yang membentuk karakter seorang anak. Jadi, tak hanya para pendidik di sekolah saja yang memiliki tanggung jawab dalam membentu moral seorang anak, orangtua justru menjadi fondasi pertama dari pendidikan tersebut. 

Jika belakangan ini banyak mendengar kasus pelecehan seksual dan kekerasan pada anak, hal ini bukan murni kesalahan dari sang anak. Peran orangtua sebagai mediator lah yang sebenarnya patut dipertanyakan. 

“Kebanyakan, orangtua menjadi sosok yang pemalas dan menyerahkan semua tanggung jawabnya kepada pihak sekolah, sehingga pendampingan hingga pengasuhan untuk sang buah hati menjadi sangat renggang. Bahkan, ibu pun tidak menyadari perubahan sikap serta perilaku yang terjadi pada anaknya sendiri,” ungkap Hana Yasmira, MSi., selaku Parenting Communication Specialist, saat ditemui GLITZMEDIA.CO dalam salah satu acara seminar.

Sebenarnya, ada banyak cara yang dapat dilakukan para orangtua untuk mengembalikan kedekatan bersama anak. Hana pun sempat berbagi sedikit tip untuk para ibu muda yang mungkin dibingungkan dengan masalah asuh dan mendidik anak-anak mereka. Simak penjelasan Hana Yasmira di bawah ini, Glitzy.


 

Mengetahui Kondisi Hati Anak

“Mungkin banyak ibu yang bingung dan menjadi marah saat anak mulai rewel dan menangis tanpa henti. Sebenarnya, apa yang mereka lakukan itu merupakan bentuk curahan hatinya. Sang anak merasa tidak diperhatikan dan mencoba mencari perhatian kepada sang ibu atau bapaknya dengan cara seperti itu. Sayangnya, terkadang Anda tidak paham dan membiarkannya begitu saja. Oleh karena itu, cobalah untuk lebih peka akan kebutuhan dari anak Anda,” ungkap founder dari HARA Parenting ini.


Mengajari Apa Yang Boleh dan Tidak

“Jadilah orangtua yang mampu mengontrol dan mengendalikan anak, jangan sampai mereka yang menguasai Anda. Cobalah ingatkan anak untuk belajar serta menuruti pedoman yang ada di rumah. Misalnya memakai handuk atau pakaian usai mandi, tidak boleh menyentuh atau disentuh bagian tubuh tertentu saat ada teman lawan jenis yang mulai nakal, dan sebagainya. Setidaknya mereka dapat memahami bagaimana tindakan terbaik untuk mencegah pelecehan seksual yang kerap kali terjadi.”


Bangun Kedekatan Batin Dengan Anak

“Menjadi ibu tidaklah mudah karena Anda memiliki banyak tugas untuk mendidik anak-anak. Bangunlah satu relasi yang kuat dengan mereka—terlebih di usia 12 tahun pertama kehidupan anak. Usia tersebut merupakan masa pertumbuhan dan pembentukan karakter anak. Tanamkan terlebih dahulu nilai moral yang tinggi, serta jalin tali keeratan antara ibu dan anak. Minimal, Anda dapat meluangkan waktu untuk berinteraksi setiap harinya usai pulang bekerja. Jika hubungan ini berjalan dengan baik, maka sang buah hati pun lambat laun akan terbuka dengan sendirinya, tanpa harus membohongi Anda.”


Mengajak Anak Untuk Terbuka

“Sebagai orangtua, seharusnya Anda mampu menjadi sahabat untuk mereka. Kemajuan teknologi yang kian pesat terkadang membuat mereka lebih cepat pandai dan banyak tahu dibandingkan ibu. Semia informasi dapat mereka temukan di internet, termasuk hal berbau seksual. Jika mereka mulai bertanya hal-hal sensitif seputar kehidupan seks, tak ada salahnya Anda memberitahukan kepada mereka, dari pada sang anak harus bertanya pada temannya yang juga tidak tahu apa-apa. Jadilah ‘guru biologi’ untuk anak Anda, agar mereka lebih paham apa dampak negatif dari tindakan tersebut,” tambah Hana.


Jadilah Contoh Baik Untuk Anak

Hana pun menambahkan, “Anda kerap kali mengajarkan anak untuk berhenti memainkan gadget saat berada di rumah, namun apa gunanya jika ibu sendiri asyik berinteraksi dengan teman-teman yang ada di layar ponsel tersebut, tanpa memperhatikan sang buah hati? Rasanya percuma, bukan? Cobalah untuk berkomitmen dengan diri sendiri, biasakan berhenti bermain gadget dan fokuskan diri kepada sang buah hati, agar mereka dapat merasa lebih diperhatikan.”


Stop Budaya ‘Menyuap’

“Memberikan rewards untuk anak yang telah berprestasi memang boleh saja, tetapi sebaiknya kebiasaan ini tidak terlalu sering dilakukan. Biarlah mereka berjuang dan berusaha sendiri dengan membiasakan diri melakukan hal tersebut tanpa paksaan atau pun janji dari pihak manapun. Dengan membiasakan hal ini, maka budaya disiplin serta mandiri akan tumbuh dengan sendirinya dari hati anak Anda,” tutupnya.

(Elizabeth Puspa, Image: Corbis)

You Might Also LIke