Stay in The know

Motherhood

Hindarkan Kebiasaan Anak Dari Perilaku Verbal Bullying Sejak Dini

Hindarkan Kebiasaan Anak Dari Perilaku Verbal Bullying Sejak Dini


Tahukah Anda jika data dari UNICEF menyebutkan bahwa 50% anak melaporkan kasus bullying di sekolahnya? Hal ini disebutkan oleh pendiri komunitas anti bullying SudahDong, Katyana Wardhana, dalam acara peluncuran kampanye “Rayakan Namamu” bersama Coca-Cola Indonesia beberapa waktu lalu.  

Menyikapi hal itu, kita sebagai orangtua tak cukup hanya prihatin, namun harus ikut memerangi hal tersebut. Anda harus lebih waspada akan tingkah laku anak sejak dini, karena semua anak berpotensi menjadi korban bully—dan yang lebih parah justru menjadi pelaku dari verbal bullying. Jangan sampai Anda hanya fokus menghindarkan anak menjadi korban namun tak peka pada mereka yang mungkin saja menjadi pelaku.

Lalu, apa itu verbal bullying? Psikolog klinis Liza Marielly Djaprie menjelaskan, “Memanggil seseorang dengan kekurangan fisik, sebutan tertentu yang mencela, hingga sindiran tajam menjadi jenis dari verbal bullying”. Liza pun melanjutkan, “Anak yang melakukan verbal bullying justru terlihat baik-baik saja. Mereka cenderung memiliki banyak t man, pergaulan luas, percaya diri, dan dominan”. Lebih dalam, ada lima poin penting yang harus dilakukan orangtua untuk mencegah perilaku verbal bullying pada anak, yaitu:



Pola Komunikasi

Sedari dini, biasakan untuk berkomunikasi yang baik dengan anak. “Biasakan anak untuk bercerita kegiatannya selama satu hari penuh. Hal ini perlu dilakukan untuk melihat indikasi anak menjadi korban ataupun pelaku bullying. Tak ada kata terlambat untuk memulai komunikasi yang baik dengan anak. Jam makan malam atau sebelum tidur bisa menjadi waktu yang baik,” ujar ibu dari empat orang anak ini.


Berikan Contoh

Pepatah mengatakan buah tak jatuh jauh dari pohonnya. Dalam arti luas, apa yang dilakukan oleh orangtua sangat mungkin dicontoh oleh buah hati secara sadar ataupun tidak. Karena itu, sebagai sumber pendidikan paling dini yang didapat oleh anak, Anda harus memberikan contoh yang baik kepada mereka. “Mulai dari diri kita dan ceritakan (sesuatu yang positif) pada anak Anda. Secara tidak langsung, ada dua hal yang Anda lakukan—mengajarkan anak untuk bercerita serta memasukkan nilai-nilai moral pada anak,” lanjut Liza.


Hargai Kejujurannya

Saat anak bercerita pada Anda, cobalah lebih peka pada ceritanya. Perhatikan apakah ada tanda-tanda ia melakukan verbal bullying. Biarkan anak bercerita sampai selesai baru kemudian tanggapi ceritanya. Jika ia menunjukkan tanda-tanda melakukan pelecehan secara verbal—seperti mengolok atau memberikan julukan buruk—pada temannya, tanyakan mengapa ia melakukan hal tersebut. “Marah hanya akan membuat ia (anak) menjadi takut untuk bersikap terbuka. Tanyakan secara baik-baik alasan mengapa anak melakukan hal tersebut,” saran ahli grafologi ini.


Berikan Larangan

“Nasehati anak dengan nada yang tidak meninggi agar ia berhenti melakukan aksi verbal bullying. Sebagai orangtua, kita juga harus memberi tahu apa yang bisa terjadi pada anak korban bullying. Tanyakan pada anak bagaimana jika posisinya di balik—ia yang menjadi korban,” papar wanita yang juga berprofesi sebagai hypnotherapist ini. Ia pun melanjutkan bahwa pujian pun dibutuhkan meskipun Anda melarang anak. Misalnya, “Kamu itu anak mama yang baik, cantik, dan pintar. Kok, seperti itu perilakunya ke teman sendiri?”


Reward and Punishment System

Jika cara baik sudah tidak ‘mempan’ terhadap anak, cara berikut yang bisa dipraktekkan adalah dengan memberikan penghargaan dan hukuman. “Jika ia masih melakukannya, kita harus tega untuk tidak memberikan fasilitas tertentu yang memang membuat ia merasa kehilangan. Misalnya, menyita smartphone-nya atau memotong uang jajan. Sebaliknya, jika ia bersikap baik selama kurun waktu tertentu, berikan reward tertentu,” ucap Liza Djaprie. 

Anda pun perlu memberikan anak alasan mengapa sistem reward dan punishment ini perlu dilakukan. “Beri tahu anak jika Anda sudah mencoba memberi tahunya dengan cara baik-baik. Karena hal tersebut tidak direspon dengan baik, maka sistem itulah yang perlu dilakukan,” tutur psikolog yang praktek klinis di Sanatorium Dharmawangsa Klinik Jakarta Selatan tersebut.

Sebagai penutup, beliau menyampaikan, “Orangtua perlu memberikan pujian, kasih sayang, contoh, serta pola komunikasi yang baik semenjak dini. Dengan begini, nilai-nilai keluarga akan kuat tertanam pada anak sehingga menghindarkan mereka dari tindakan kurang baik serta menguatkan prinsip mereka agar tak mudah menjadi korban penindasan atau bullying.”

(BACA JUGA: MENGENAL ENAM ISTILAH BULLYING YANG MARAK TERJADI DI MASYARAKAT)

(Shilla Dipo, Images: Corbis)

You Might Also LIke