Stay in The know

Motherhood

Eksklusif: Curhat Seorang Ibu Yang Berjuang Mengasuh Anaknya dengan Kebutuhan Khusus

Eksklusif: Curhat Seorang Ibu Yang Berjuang Mengasuh Anaknya dengan Kebutuhan Khusus

Peran keluarga dan orangtua sangat penting bagi perkembangan serta prestasi anak-anak penyandang autisme.

Memperingati hari anak nasional, GLITZMEDIA.CO secara spesial mewawancarai salah satu wanita sekaligus ibu dari anak penyandang kebutuhan khusus—autisme—bernama Dewi Semarabhawa (BACA: Selamat Hari Anak Nasional, Dari Abhy, Anak Penyandang Autis, Untuk Indonesia). 

Dalam kesempatan yang sama, wanita berusia 50 tahun ini memberikan banyak kisah menarik seputar perjalanannya dalam mengasuh serta membesarkan buah hati tercintanya, Made Dwara Abhy yang kini menginjak usia 21 tahun.

Saat ditemui di kawasan Lot 9, Bintaro, Jakarta Selatan, ibu dari dua anak ini banyak menceritakan pengalaman menarik yang ia rasakan selama merawat anaknya tersebut. Suka duka, bullying, dan rasa putus asa kerap kali ia alami. Namun, semua itu ternyata terbayar sudah. Dewi pun mampu membuktikan kepada banyak orang termasuk mereka yang pernah mengagap sebelah mata anaknya. 

Abhy kini tumbuh menjadi anak yang cerdas, berbakat, dan mengajari banyak hal seputar kehidupan yang sesungguhnya. Untuk lebih jelasnya, berikut cerita lengkap seputar perjalanan hidup Dewi dalam membesarkan Abhy.




Reaksi Awal Saat Mengetahui Kondisi Abhy

“Saat awal saya sempat down. Terlebih dokter telah memvonis Abhy tidak dapat bekerja apapun, bahkan menjadi pengemis. Namun, saya terus berusaha membawanya ke tempat terapi untuk membuatnya bisa beradaptasi dengan masyarakat. Saya hanya ingin menjaga dan membesarkan dia sepenuh hati, meskipun sulit dan ia banyak ditolak di lingkungannya.”


Suka Duka Menjadi Ibu 

“Dulu, saya cukup putus asa dan sakit hati. Dari awal ingin masuk Sekolah Dasar, saya dan suami banyak menghabiskan waktu untuk mencarikan tempat terbaik untuk anak saya. Sayangnya, saya mengalami banyak penolakan dengan beragam alasan. Bahkan, Abhy pun pernah mendegar secara langsung ketika salah satu sekolah menolak dirinya untuk bergabung. 

Perasaan saya saat itu sangat kacau, namun Abhy adalah sosok yang luar biasa. Ia jauh lebih tegar daripada saya. Saat melihat saya menangis kala itu karena sedih sekaligus sakit hati, ia justru menggenggam tangan saya dan memberikan dukungannya.”




Bentuk Bullying Yang Pernah Abhy Alami

“Dulu Abhy pernah dituduh sama salah satu orangtua murid, karena anaknya terluka. Jujur, saya sangat terpukul, namun beruntungnya kepala sekolah menindaklanjuti kasus tersebut hingga akhirnya terbukti bahwa bukan Abhy yang bersalah. 

Tak hanya itu, Abhy juga pernah dipalak—dimintai uang secara paksa—oleh teman sebangkunya saat SMP. Banyak barangnya yang hilang seperti handphone, uang, dan sebagainya. Sedihnya, justru sekolah itu meminta Abhy untuk pindah karena dianggap tak mampu bersosialisasi di sekolah tersebut.”


Upaya Dewi Dalam Membantu Abhy Beradaptasi

“Beruntungnya Abhy adalah anak yang cukup percaya diri, ia justru penyemangat saya. Saya selalu mengajak dia untuk berkomunikasi, belajar, dan mengajari banyak hal agar ia tahu perkembangan di lingkungannya. Saya juga memberikan dia banyak metode pengajaran, seperti belajar menghitung dengan lidi-lidian, hingga membuatkan buku khusus yang berisikan seluruh gejala sosial—mulai dari hal kecil seperti cara mencuci tangan hingga sex education. Saya sengaja mengajarkan ini agar Abhy dapat mudah beradaptasi dengan lingkungannya serta mengerti norma sosial yang berlaku.”



(Abby (kanan) bersama dengan keluarganya)

(BACA JUGA: Dewi Semarabhawa Berbagi Tip Untuk Mengasuh Anak Berkebutuhan Khusus)


Fase Terberat Yang Pernah Dialami

“Keluarga saya banyak yang membandingkan Abhy  dengan anak seusianya dulu. Namun, saya terus berjuang dan berusaha membuktikan bahwa Abhy adalah anak yang istimewa, meskipun memiliki kondisi berbeda. Ia mampu bersaing serta tak kalah hebat dengan orang normal lainnya. Bersyukurnya, mereka sekarang sudah dapat menerima Abhy, bahkan tak lagi malu.”


Cara Membagi Cinta Kasih Dengan Sang Kakak

“Dulu kakaknya yang perempuan—Dera—pernah protes. Dia bilang, “Mama lebih sayang dengan adik”. Akhirnya, saya memberikan penegasan bahwa kasih sayang yang imbang itu bukan 50:50, tapi tergantung kebutuhan. Saya mencintai kedua anak saya, namun Abhy jauh lebih membutuhkan bimbingan agar tidak merepotkan anak pertama saya kelak jika saya dan suami sudah tidak ada. Akhirnya, ia menerima dan sangat mencintai adiknya sampai saat ini.”




Bagaimana Cara Menemukan Talenta Abhy?

“Saya sadar ketika melihat reaksinya saat pertama kali saya ajarkan untuk menggerakkan jarinya di atas tuts piano. Saat itu, ia langsung senang dengan bunyi-bunyi piano. Apalagi saat guru SD nya sering mengajaknya bermain musik sambil menari. Ia justru menggeser gurunya dari kursi piano dan mulai memainkan tutsnya. Saya sadar dan langsung memperdalam musik untuk Abhy. Ia bahkan bisa membuat not angka dari lagu yang didengarnya. Sungguh luar biasa!”


Sosok Paling Berpengaruh Dalam Mengasuh Anak

“Keluarga saya dan suami. Mereka adalah sosok yang paling membantu saya membesarkan serta merawat Abhy. Kami berjuang bersama untuk mendidik anak kami agar terus maju dan berkembang. Selain itu, lingkungan sosial yang baik juga berpengaruh besar. Kondisi psikologis Abhy sendiri juga menjadi lebih stabil, ketika teman-teman di dekatnya terbuka dengan dirinya.”




Harapan Seorang Ibu Kepada Anak Berkebutuhan Khusus

“Saya hanya berharap para orangtua yang senasib dengan saya dapat lebih menerima anaknya masing-masing. Jaga dan rawat mereka selayaknya anak normal pada umumnya. Mereka memiliki hak dan kehidupan yang sama dengan kita semua. Jangan pernah minder dengan keadaan yang ada. Jadikan anak-anak ini menjadi sosok yang mandiri, agar semangatnya dapat tumbuh, hingga membuatnya berprestasi”. 

(Elizabeth Puspa, Wawancara: Shilla Dipo & Elizabeth Puspa, Image: GLITZMEDIA.CO)

You Might Also LIke