Stay in The know

Motherhood

Deteksi Malaria Pada Anak dan Temukan Solusinya

Deteksi Malaria Pada Anak dan Temukan Solusinya

Kenali dan cermati virus malaria sedini mungkin.

Durasi baca: 1 menit 20 detik.


World Health Organization (WHO) telah menetapkan setiap tanggal 25 April, menjadi Hari Malaria Sedunia. Momen tersebut dapat menjadi satu peringataan bagi seluruh masyarakat supaya lebih berhati-hati terhadap penyakit yang rentan menyerang anak-anak tersebut. Menutip Kidshealth.org, terdapat beberapa penyebab, gejala dan solusi yang wajib Anda pahami, supaya anak terhindar dari malaria.


APA PENYEBAB MALARIA?

Malaria merupakan penyakit yang umumnya terjadi di daerah beriklim tropis seperti Indonesia. Malaria terbagi menjadi beberapa tingkatan, mulai dari ringan, sedang hingga mematikan. Penyakit ini biasanya dibawa oleh nyamuk anopheles yang menyebarkan parasit plasmodium dan dapat tertular melalui gigitan serta aliran darah manusia. Orang yang sudah terkena bakteri ini akan mengalami demam tinggi selama 2 – 3 hari pasca gigitan pertama. Malaria bukan termasuk kategori penyakit menular, namun Anda dapat ikut terkontaminasi jika melakukan transfusi atau donor darah dari penderita.




BAGAIMANA GEJALA MALARIA?

  • Gejala awal, anak akan mengalami iritasi pada bagian kulit seperti kemerahan, mudah mengantuk dan tidak nafsu makan.
  • Selanjutnya, tubuh terasa sangat mengigil disertai demam dan sulit tidur. Kondisi ini biasanya berlangsung selama 1 – 2 hari dan terjadi lonjakan suhu tubuh secara drastis hingga mencapai angka 105 derajat fahrenheit atau setara dengan 40,6 derajat celcius—bahkan bisa lebih tinggi.
  • Ketika demam berakhir, anak akan mulai mengeluarkan keringat sebagai reaksi keluarnya panas dari dalam tubuh dan suhu kembali normal. Kondisi ini akan terus berlangsung hingga 2 – 3 hari.
  • Gejala selanjutnya, anak akan merasa sakit kepala, mual, cepat pegal dan nyeri pada seluruh bagian tubuh—terutama punggung dan perut. Pada dalam tubuh akan terjadi pembesaran di bagian limpa yang melebihi ukuran normal. 
  • Gejala paling parah bisa menyebabkan anak mengalami kejang dan kehilangan kesadaran akibat fungsi otak yang sudah terganggu.

  • PAGE
  • 1
  • 2

Author:

You Might Also LIke