×

Stay in The know

Motherhood

Dampak Orangtua Terlalu Mencemaskan Anak

Dampak Orangtua Terlalu Mencemaskan Anak
Shilla Dipo

Tue, 16 January 2018 at 16.29

Dampak dari helicopter parenting.

Durasi baca: 1 menit


Ketika kecemasan berlebih pada anak muncul, maka orangtua selalu membantu anak dalam berbagai situasi. Hal tersebut baik agar masalah cepat selesai, namun anak tidak memiliki ruang dan kesempatan untuk berpikir sendiri mencari jalan keluar. Hasilnya, ketika mengalami masalah yang lebih besar anak akan menjadi cemas karena tidak tahu bagaimana cara menghadapinya tanpa bantuan orangtua. Menurut penelitian yang dikeluarkan oleh Journal of Clinical Child and Adolescent Psychology, gangguan kecemasan pada anak bersifat kronik dan melemahkan dan bertahan hingga mereka dewasa.


Laporan Pemerintah Federal Australia mengungkapkan bahwa gangguan kecemasan menjadi penyakit mental ke-2 di negara Australia. Salah satu penyebab kecemasan itu adalah penerapan pola asuh helicopter parenting. Dilansir dari Dailymail.co.uk, helicopter parenting merupakan sebuah pola asuh yang menginginkan orangtua selalu dekat dengan anaknya untuk melindungi dan menolong berbagai masalah. Helicopter parenting merupakan sebuah pola asuh orangtua yang ingin selalu melindungi anak dari berbagai permasalahan. Sekitar 7% anak-anak berusia 4 – 17 tahun di Australia menderita  gangguan kecemasan akibat pola asuh ini. Berikut dampak negatif yang diterima anak ketika orangtua menggunakan helicopter parenting. 


DAMPAK JANGKA PENDEK

Dampak jangka pendek ini menjadi sisi positif dari pola asuh helikopter. Ketika sedang mengalami masalah, seorang anak yang mendapatkan helicopter parenting akan cenderung menceritakan masalahnya kepada orangtua. Dampak jangka pendeknya, anak tersebut akan dengan mudah menyelesaikan permasalahannya karena mendapatkan bantuan orangtua. Tidak hanya itu, kecemasan antara anak dan orangtua menghadapi masalah tersebut akan segera teratasi.


DAMPAK JANGKA PANJANG

Kecemasan Jangka Panjang

Kecemasan jangka panjang akan dirasakan pada anak yang diasuh dengan metode helicopter parenting jika orangtuanya tidak lagi membantu. Anak akan bingung apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikan masalah. Hal ini karena sebelumnya anak tidak pernah menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa bantuan orangtua, hingga muncul rasa cemas. 



(Foto: Engin_akyurt/Pixabay.com)

<--- next page --->

Lari dari Masalah

Biasanya anak yang masalahnya sering diselesaikan oleh orangtua akan lebih memilih lari dari masalah saat ia tidak mendapat bantuan. Parahnya, hal ini akan terjadi hingga anak menginjak usia dewasa. Langkah itu dianggapnya menjadi cara terbaik terhindar dari masalah. Ia tidak menyadari bahwa kebiasaannya lari dalam masalah justru akan melahirkan problematika baru yang membuatnya semakin rumit.

 

Takut Mengemukakan Pendapat

Orangtua yang menggunakan helicopter parenting akan berusaha menyelesaikan masalah anak agar ia bisa kembali melakukan aktivitasnya dengan tenang. Ketika masalah datang, anak tersebut akan cenderung menerima apa saja yang menjadi keputusan orangtua untuk menyelesaikan masalahnya. Ia menganggap keputusan orangtua adalah yang paling benar. Padahal, belum tentu apa yang disarankan orangtua bisa menyelesaikan permasalahan karena sejatinya yang mengetahui bagaimana detail masalah tersebut adalah diri anak sendiri. 



(Foto: Freephotos/Pixabay.com)


Memiliki Pribadi yang Lemah

Ketika seorang anak yang diasuh dengan metode helicopter parenting sudah tidak lagi mendapatkan bantuan dari orangtua, ia akan cenderung kebingungan dalam mencari jalan keluar. Anak yang tumbuh dewasa akan sering lari dari masalah untuk menghindari kecemasan. Ketika anak mendapatkan masalah yang lebih besar atau hidup di lingkungan yang keras, ia akan cenderung mudah stres, tidak bisa mencari jalan keluar. 


Tidak ada yang melarang jika orang tua mencemaskan bahkan membantu anaknya menyelesaikan permasalahan asalkan masih dalam porsinya. Jangan sampai niat Anda untuk memberikan yang terbaik bagi anak justru menuai hasil yang menyulitkannya saat ia dewasa. Sebaiknya berilah semangat dan kepercayaan bahwa anak Anda pasti bisa mencari jalan keluarnya sendiri. 


(Riska Yulyana, Foto : Sasint/Pixabay.com)

You Might Also LIke