Stay in The know

Motherhood

7 Cara Menjadi Sahabat Untuk Anak Anda

7 Cara Menjadi Sahabat Untuk Anak Anda


Peran seorang ibu bukanlah status saja. Sebagai seorang ibu Glitzy harus bisa menjadi sahabat yang baik untuk buah hati Anda. Pola pikir dan emosi Anda pun dituntut menyesuaikan diri dengan karakter sang anak. Di sini lah salah satu tantangan menjadi ibu, bukan? 

Berikut ini tip Glitz Media untuk membantu Anda menjadi sahabat yang baik untuk anak. Ketika berhasil, rasa puas, bangga, dan bahagia itu tak terbendung!


Pendengar Yang Baik

Ketika Glitzy memposisikan diri sebagai sahabat untuk anak, pastikan Anda menjadi pendengar yang baik untuknya. Luangkan waktu ketika anak bercerita dan berikan kebebasan bercerita lebih terbuka untuknya. Dengan begini Anda sudah mengantungi kepercayaan anak—apalagi jika Anda tempat curhat pertamanya. 

Ketika anak bercerita pada orang tuanya, ada tiga tujuan dan alasan mereka. Mencari solusi akan masalah yang mereka dihadapi, mengadu untuk membutuhkan dukungan, dan terakhir bercerita sesuatu hal yang menyenangkannya untuk mendapat apresiasi Anda.

Dengarkan baik-baik isi pembicaraan anak, jangan memotong, atau langsung membuat pernyataan larangan (bantahan). Akan lebih baik jika Glitzy memberikan nasihat yang membangun karakternya usai dia bercerita, support ketika mereka merasa lemah, dan pujian ketika anak melakukan hal yang baik (positif).  


Tegur Jika Salah 

Teguran jelas perlu, apalagi jika anak melakukan sesuatu hal yang kurang pantas atau salah. Nasihati anak secara perlahan dengan memberi cara memberi pengertian. Ubah gaya bahasa dan gaya bicara Anda agar lebih mudah dicerna oleh anak. Posisikan diri sebagai temannya sehingga Anda pun lebih mudah berbicara tanpa harus menyudutkan si anak. Dengan cara ini anak pun akan lebih respect pada Anda, menuruti nasihat Anda, dan yang paling penting tak mengurangi rasa percayanya kepada Anda.


Turuti Kemauannya, Tapi...

Tak perlu khawatir anak menjadi manja dan tak mandiri ketika Anda menuruti kemauannya—kuncinya tetap ada di Anda, kok, Glitzy. Bayangkan saja Anda harus berpikir seperti lampu lalu lintas. Tahu kapan menjadi lampu merah untuk memberikan larangan dengan alasan yang baik. Menjadi lampu kuning yang mengizinkan anak melakukan apa yang diinginkan tetapi dengan syarat tertentu agar anak tahu batasan. Terakhir, menjadi lampu hijau ketika Anda merasa apa yang anak inginkan sejalan dengan pikiran Anda. 'Lampu' apapun yang Anda pilih, pastikan untuk memantau kemauan dan tindakan anak secara intensif. 


Jangan Memaksakan Keinginan

Hari gini masih bilang “Kamu harus jadi dokter seperti papa?” Ah, Anda hidup di zaman kapan Glitzy? Please, jangan emaksakan keinginan Anda untuk anak. Idealisme orang tua bisa membuat hubungan anak dan kedua orang tuanya menjauh. Anak merasa kedua orang tuanya adalah orang yang paling mengerti mereka, tapi ketika dihadapkan pada sebuah pemaksaan, jangan salahkan anak ketika mereka berubah sikap. 

Lebih sering berbohong, berkelit, dan mudah menangis sudah pasti terlihat dari dirinya. Biarkan mereka tumbuh dengan mimpi dan imajinasinya. Tugas Anda adalah menggali apa yang mereka inginkan, kemudian mengarahkan dan menuntunnya. Cari tahu bakat dan kreativitas yang mereka punya, lalu ajak mereka mengembangkannya tetap di jalur yang positif.


Setia Berada di Sampingnya

Berada di sampingnya layaknya seorang sahabat—ya, benar-benar di sampingnya. Temani mereka ketika bermain, ajarkan mereka ketika membaca buku, menonton, atau menggambar. Gandeng tangannya ketika Anda berjalan di sampingnya. Temani mereka ketika memilih baju dan mainannya, bahkan tuntun mereka ketika memulai sesuatu hal baru seperti menabung atau membeli sesuatu.

Jangan buru-buru bilang sibuk, tak ada waktu, apalagi minta bantuan pengasuh untuk menggantikan posisi Anda—it’s a big no no! Tak mau, kan, ketika ada masalah anak bukannya ‘lari’ kepada Anda melainkan kepada orang lain.


Jangan Mengekangnya

Rasa cemas dan pikiran negatif berlebihan justru memicu terjadi pengekangan pada anak. Apalagi jika Glitzy memiliki masa kecil atau masa muda yang kurang menyenangkan. Mengekang berlebihan dan over protective akan mengakibatkan anak tumbuh dalam rasa takut, was-was, dan kuper. Tentu saja, anak tidak bahagia, minder, dan tersudut—yang parahnya dia bisa depresi dan melawan Anda. 

Yang harus Anda hindari adalah anak tumbuh tidak sehat dengan pemikirannya (sendiri) yang salah. Alhasil, anak biasanya lebih ingin tahu, ingin mencoba, dan ingin meniru sesuatu tanpa mendiskusikannya kepada Anda. Kebebasan bertanggung jawab harus Anda tanamkan pada anak sejak dini. Masa iya bisa? Lagi-lagi semua kembali kepada Anda, Glitzy. Tanamkan saja aturan lampu lalu lintas tadi untuk membantu Anda mendidik anak tanpa harus terus mengekangnya. 


Berteman Dengan Lingkungannya 

Lingkungan di luar keluarga berperan penting menjadi akar pertumbuhan anak. Benar adanya kalau ada yang bilang belajar itu bisa melalui lingkungan. Pengawasan pun harus Anda lakukan dalam batas wajar tanpa harus membuatnya risih. Rasa khawatir berlebihan akan meredam jika kita mengenali lingkungannya, karena cara ini paling mudah dilakukan untuk mendeteksi pergaulan anak. 

Sekolah dan tetangga umumnya akan menjadi tempat mereka untuk bergaul. Kenali siapa teman-teman bermain dan berteman anak, bahkan Anda pun perlu kenal langsung dengan orang tua dari teman-temannya. Beri pengertian khusus untuk anak ketika Anda mencium sesuatu yang kurang baik dalam pergaulannya. Sesekali Glitzy pun perlu bertukar informasi dengan orang tua teman-teman anak juga guru di sekolahnya agar tetap tahu perkembangan.

(Elizabeth Puspa/Saskia Damanik, Image: Corbis)

You Might Also LIke