×

Stay in The know

Motherhood

6 Cara Agar Ibu Bisa Lebih Dekat dengan Anak

6 Cara Agar Ibu Bisa Lebih Dekat dengan Anak
Anggia Hapsari

Mon, 2 September 2019 at 09.02

Bangun relasi dan ikatan batin dengan si Kecil dengan cara yang diungkapkan oleh ahli ini. 

Durasi baca: 1 menit


Sebelum sekolah, rumah adalah tempat pertama yang membentuk karakter seorang anak. Jadi, tak hanya para pendidik di sekolah saja yang memiliki tanggung jawab dalam membentu moral seorang anak, orangtua justru menjadi fondasi pertama dari pendidikan tersebut. 


Jika belakangan ini banyak mendengar kasus pelecehan seksual dan kekerasan pada anak, hal ini bukan murni kesalahan dari sang anak. Peran orangtua sebagai mediator selayaknya menjadi perhatian. 


Kebanyakan, orangtua menjadi sosok yang pemalas dan menyerahkan semua tanggung jawabnya kepada pihak sekolah, sehingga pendampingan hingga pengasuhan untuk sang buah hati menjadi sangat renggang. Bahkan, ibu pun tidak menyadari perubahan sikap serta perilaku yang terjadi pada anaknya sendiri,” ungkap Hana Yasmira, MSi., selaku Parenting Communication Specialist, saat ditemui GLITZMEDIA.CO dalam salah satu acara seminar.

(BACA JUGA: 6 Ciri Ini Menunjukkan Anda Memiliki Anak yang Cerdas)


Sebenarnya, ada banyak cara yang dapat dilakukan para orangtua untuk mengembalikan kedekatan bersama anak. Hana pun sempat berbagi sedikit tips untuk para ibu muda yang bingung dengan masalah asuh dan mendidik anak-anak mereka. Simak penjelasan Hana Yasmira di bawah ini.


PAHAMI KONDISI HATI ANAK

Mungkin banyak ibu yang bingung dan menjadi marah saat anak mulai rewel dan menangis tanpa henti. Sebenarnya, apa yang mereka lakukan itu merupakan bentuk curahan hatinya. Sang anak merasa tidak diperhatikan dan mencoba mencari perhatian kepada sang ibu atau ayahnya dengan cara seperti itu. 


Sayang, terkadang Anda tidak paham dan membiarkannya begitu saja. Oleh karena itu, cobalah untuk lebih peka akan kebutuhan dari anak Anda.


AJARI ANAK MENGENAI YANG BOLEH DAN YANG TIDAK

Jadilah orangtua yang mampu mengontrol dan mengendalikan anak, jangan sampai mereka yang menguasai Anda. Cobalah ingatkan anak untuk belajar serta menuruti pedoman yang ada di rumah. 


Misalnya memakai handuk atau pakaian usai mandi, tidak boleh menyentuh atau disentuh bagian tubuh tertentu saat ada teman lawan jenis yang mulai nakal, dan sebagainya. Setidaknya mereka dapat memahami bagaimana tindakan terbaik untuk mencegah pelecehan seksual yang kerap kali terjadi.


BANGUN KEDEKATAN BATIN DENGAN ANAK

Menjadi ibu tidaklah mudah karena Anda memiliki banyak tugas untuk mendidik anak-anak. Bangunlah satu relasi yang kuat dengan mereka—terlebih di usia 12 tahun pertama kehidupan anak. 


Usia tersebut merupakan masa pertumbuhan dan pembentukan karakter anak. Tanamkan terlebih dahulu nilai moral yang tinggi, serta jalin tali keeratan antara ibu dan anak. Minimal, Anda dapat meluangkan waktu untuk berinteraksi setiap harinya usai pulang bekerja. 

(BACA JUGA: Dampak Positif dan Negatif Pada Anak yang Gemar Bermain Gadget)


Jika hubungan ini berjalan dengan baik, maka sang buah hati pun lambat laun akan terbuka dengan sendirinya kepada Anda untuk bercerita dan menumpahkan keluh kesahnya. Gunakan bahasa sehari-hari yang cenderung dekat dengan anak. 


Misalnya,”Apa yang membuat kamu senang di sekolah hari ini?” atau “Kamu bermain dengan siapa saja hari ini?” dibanding melontarkan pertanyaan, “Belajar apa kamu di sekolah hari ini?”. Dengan pola pertanyaan yang bersifat eksploratif ini, anak akan lebih senang dan nyaman bercerita. 


MENGAJAK ANAK UNTUK TERBUKA

Sebagai orangtua, seharusnya Anda mampu menjadi sahabat untuk mereka. Kemajuan teknologi yang kian pesat terkadang membuat mereka lebih cepat pandai dan banyak tahu dibandingkan ibu. 


Semua informasi dapat mereka temukan di internet, termasuk hal berbau seksual. Jika mereka mulai bertanya hal-hal sensitif seputar kehidupan seks, tak ada salahnya Anda memberitahukan kepada mereka, dari pada sang anak harus bertanya pada temannya yang juga tidak tahu apa-apa. Jadilah ‘guru biologi’ untuk anak Anda, agar mereka lebih paham apa dampak negatif dari tindakan tersebut. 


JADI CONTOH BAIK UNTUK ANAK

Hana pun menambahkan, “Anda kerap kali mengajarkan anak untuk berhenti memainkan gadget saat berada di rumah, namun apa gunanya jika ibu sendiri asyik berinteraksi dengan teman-teman yang ada di layar ponsel tersebut, tanpa memperhatikan sang buah hati? Rasanya percuma, bukan? Cobalah untuk berkomitmen dengan diri sendiri, biasakan berhenti bermain gadget dan fokuskan diri kepada sang buah hati, agar mereka dapat merasa lebih diperhatikan.

(BACA JUGA: 6 Cara Sederhana Mengajarkan Sopan Santun pada Anak)



PENGHARGAAN ATAS KEBERHASILANNYA

Memberikan rewards untuk anak yang telah berprestasi memang boleh saja, tetapi sebaiknya kebiasaan ini tidak terlalu sering dilakukan. Berikan rewards padanya untuk kondisi yang penting seperti naik kelas atau pada saat hari raya besar sebagai tanda kasih sayang.


Kumpulkan rewards tersebut dengan mengumpulkan poin. Poin tersebut dapat diperoleh jika anak dapat menjadi anak yang baik atau memperoleh nilai baik dalam jangka waktu tertentu.Misalnya 15 kali. 


Jika mereka telah mengumpulkan poin tersebut, Anda boleh memberikannya hadiah. Dengan demikian, si Kecil terpacu untuk berjuang, berambisi, dan membiasakan diri melakukan suatu hal tanpa paksaan. Jangan lupa untuk memberikan kalimat penyemangat dan kalimat sayang kepadanya ya, Bu!


 (Agnes Priscilla, foto: Unsplash/ Sai Da Silva/ Thiago Charquia)


You Might Also LIke