Stay in The know

Motherhood

5 Cara Mencegah Verbal Bullying

 5 Cara Mencegah Verbal Bullying

Tidak hanya menghindari anak menjadi korban, Anda pun perlu mencegah anak menjadi pelaku verbal bullying.

Durasi baca: 1 menit 30 detik


Sekolah ternyata belum tentu menjadi tempat yang aman bagi siswa, terutama bagi siswa berusia remaja. Laporan terbaru dari UNICEF menyebutkan, setengah dari remaja di dunia mengalami kekerasan di sekolah.


Laporan tersebut menyatakan bahwa sebanyak setengah siswa berusia 13-15 tahun atau setara 150 juta remaja di dunia pernah mengalami kekerasan berupa perkelahian fisik dan bullying dari teman sebaya di sekolah.  Menyikapi hal itu, kita sebagai orangtua tidak cukup dengan hanya prihatin, namun perlu untuk ikut mencegah sekaligus memerangi hal tersebut. 


Anda harus lebih waspada akan tingkah laku anak sejak dini, karena semua anak berpotensi menjadi korban bully—dan yang lebih parah justru menjadi pelaku dari verbal bullying. Jangan sampai Anda hanya fokus menghindarkan anak menjadi korban namun tak peka pada mereka yang mungkin saja menjadi pelaku.

(BACA JUGA: Lakukan ini untuk Menyembunyikan Pertengkaran Anda dengan Suami di Hadapan Anak)


Apakah yang dimaksud dengan verbal bullying? Psikolog klinis Liza Marielly Djaprie menjelaskan bahwa perundungan tersebut dapat dicontohkan mulai dari memanggil seseorang dengan kekurangan fisik, sebutan tertentu yang mencela, hingga sindiran tajam menjadi jenis dari verbal bullying.


Anak yang melakukan verbal bullying justru terlihat baik-baik saja. Mereka cenderung memiliki banyak teman, pergaulan luas, percaya diri, dan dominan,” jelas Liza lagi. 


Sama seperti perundungan fisik, verbal bullying pun bisa merugikan seseorang. Anak dapat menjadi tidak percaya diri dan dapat memicu depresi. Cegah perilaku verbal bullying dengan membiasakan beberapa hal ini pada anak:


POLA KOMUNIKASI

Sedari dini, biasakan untuk berkomunikasi yang baik dengan anak. Biasakan anak untuk bercerita kegiatannya selama satu hari penuh. Hal ini perlu dilakukan untuk melihat indikasi anak menjadi korban ataupun pelaku bullying. 


Tak ada kata terlambat untuk memulai komunikasi yang baik dengan anak. Jam makan malam atau sebelum tidur bisa menjadi waktu yang baik. Anda dapat memulai perbincangan dengan bercerita tentang kegiatan Anda. 


Lalu, lanjutkan dengan kalimat umum yang mudah dicerna oleh anak, seperti “Apakah hari ini kamu bersenang-senang?”, “Apakah hari ini kamu tertawa senang?”, atau “ Apakah kamu sedih hari ini di sekolah?”.


BERI CONTOH KEPADA ANAK

Pepatah mengatakan buah tak jatuh jauh dari pohonnya. Dalam arti luas, apa yang dilakukan oleh orangtua sangat mungkin dicontoh oleh buah hati secara sadar ataupun tidak. Karena itu, sebagai sumber pendidikan paling dini yang didapat oleh anak, Anda harus memberikan contoh yang baik kepada mereka. 


Mulai dari diri kita dan ceritakan (sesuatu yang positif) pada anak Anda. Secara tidak langsung, ada dua hal yang Anda lakukan—mengajarkan anak untuk bercerita serta memasukkan nilai-nilai moral pada anak,” lanjut Liza.


HARGAI KEJUJURAN ANAK

Saat anak bercerita pada Anda, cobalah lebih peka pada ceritanya. Perhatikan apakah ada tanda-tanda ia melakukan verbal bullying. Biarkan anak bercerita sampai selesai baru kemudian tanggapi ceritanya. 

(Foto: pbs.org)


Jika ia menunjukkan tanda-tanda melakukan pelecehan secara verbal—seperti mengolok atau memberikan julukan buruk—pada temannya, tanyakan mengapa ia melakukan hal tersebut. “Marah hanya akan membuat ia (anak) menjadi takut untuk bersikap terbuka. Tanyakan secara baik-baik alasan mengapa anak melakukan hal tersebut,” saran Liza.


BERI LARANGAN

Nasehati anak dengan nada yang tidak meninggi agar ia berhenti melakukan aksi verbal bullying. Sebagai orangtua, kita juga harus memberi tahu apa yang bisa terjadi pada anak korban bullying. Tanyakan pada anak bagaimana jika posisinya di balik—ia yang menjadi korban.


Liza pun melanjutkan bahwa pujian pun dibutuhkan meskipun Anda melarang anak. Misalnya, “Kamu itu anak Ibu yang baik, cantik, dan pintar. Kok, seperti itu perilakunya ke teman sendiri?”


REWARD & PUNISHMENT SYSTEM

Jika cara baik sudah tidak ‘mempan’ terhadap anak, Anda pun perlu melakukan strategi lain.

(BACA JUGA: Dampak Negatif Ketika Anak Sering Melihat Orangtua Bertengkar)


“Jika ia masih melakukan verbal bullying, Anda harus tega untuk tidak memberikan fasilitas tertentu yang memang membuat ia merasa kehilangan. Misalnya, menyita smartphone-nya atau memotong uang jajan. Sebaliknya, jika ia bersikap baik selama kurun waktu tertentu, berikan reward tertentu,” ucap Liza Djaprie. 

(Foto: rd.com)


Anda pun perlu memberikan anak alasan mengapa sistem reward dan punishment ini perlu dilakukan. “Beri tahu anak jika Anda sudah mencoba memberi tahunya dengan cara baik-baik. Karena hal tersebut tidak direspon dengan baik, maka sistem itulah yang perlu dilakukan,” tuturnya lebih lanjut. 


Kuncinya, setiap orangtua perlu memberikan pujian, kasih sayang, contoh, serta pola komunikasi yang baik sejak dini. Dengan begini, nilai-nilai keluarga akan kuat tertanam pada anak sehingga menghindarkan mereka dari tindakan kurang baik. Kebiasaan ini pun dapat membantu menguatkan prinsip mereka agar tak mudah menjadi korban penindasan atau bullying.


(Ratih Dwiningtyas, foto: Pexels.com/ Pixabay/ Kat Jayne) 




Author:

You Might Also LIke