Perhatikan beberapa hal ini jika saat ini Anda sedang hamil, mau bersalin, atau sedang program KB.


Menjalani kehidupan di tengah pandemi COVID-19 memang tidak mudah. Beragam protokol kesehatan wajib dilakukan agar tidak terinfeksi virus ini. Hal tersebut tidak hanya berlaku pada masyarakat biasa, namun juga ibu hamil. Dalam acara virtual press conference ‘Karsa dan Cita untuk Indonesia’ yang diadakan oleh ILUNI FKUI 1996 memberikan edukasi kesehatan terkait kehamilan, bersalin, dan KB di masa pandemi. 


Menurut Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, SpOG (K), MPH masyarakat pada umumnya berpikir jika ibu hamil lebih rentan terpapar virus Sars Cov-2 dibandingkan populasi umum. Namun ternyata hal tersebut tidak benar, sampai saat ini belum ada bukti yang menunjukkan perempuan hamil rentan tertular infeksi. Bukti terbaru menunjukkan kemungkinan virus dapat ditularkan secara vertikal, meskipun proporsi kehamilan yang terpengaruh dan signifikansi pada bayi belum dapat ditentukan. 

(BACA JUGA: Sederet Pilihan Sayuran untuk Ibu Hamil yang Baik Dikonsumsi)


Studi lain menunjukkan bahwa pengaruh virus corona terhadap janin adalah meningkatnya risiko kelahiran prematur yang bisa juga disebabkan oleh keputusan terminasi kehamilan atas indikasi ibu, bukan semata-semata akibat infeksi COVID-19. 


“Adanya risiko tersebut di atas mengharuskan pelayanan antenatal dan postnatal dilakukan dengan cermat. Ibu hamil harus tetap dimotivasi untuk tetap memantau kehamilannya selama pandemi COVID-19 dengan tetap memperhatikan social distancing,” tambah Prof. Iko, demikian beliau biasa dipanggil. 


HAMIL DAN BERSALIN DI TENGAH PANDEMI

Prof. Iko juga kembali menjelaskan bahwa pada trimester pertama, pemeriksaan antenatal tidak dianjurkan, kecuali dibutuhkan pemeriksaan ultrasonografi bila ada keluhan serta kecurigaan terhadap kejadian kehamilan ektopik. 

(BACA JUGA: Jelang Persalinan, Inilah Perlengkapan Bayi Baru Lahir yang Wajib Disiapkan)


Sedangkan pada trimester kedua, pemeriksaan antenatal dapat dilakukan melalui tele konsultasi klinis, kecuali dijumpai keluhan atau kondisi gawat darurat. Pemeriksaan kehamilan tetap harus dilakukan pada ibu hamil berisiko tinggi, seperti ibu hamil dengan riwayat hipertensi, diabetes melitus, atau pertumbuhan janin terhambat. 



(Foto: Eugenia Communication)


Pada Trimester ketiga (usia kehamilan 37 minggu ke atas pemeriksaan antenatal harus dilakukan dengan tujuan utama untuk menyiapkan proses persalinan. Sebaiknya diperhatikan kondisi gawat darurat yang menyebabkan ibu hamil harus melakukan pemeriksaan antenatal, yaitu mual muntah hebat, perdarahan banyak, gerakan janin berkurang, ketuban pecah, nyeri kepala hebat, tekanan darah tinggi, kontraksi berulang, dan kejang.

Demikian juga halnya dengan ibu hamil dengan penyakit diabetes mellitus gestasional, preeklampsia berat, pertumbuhan janin terhambat, dan ibu hamil dengan penyakit penyerta lainnya atau riwayat obstetri buruk.