Hati-hati, membiasakan anak tidur bersama orangtua hingga usia remaja, ternyata bisa memberikan dampak negatif.


Saat anak-anak berusia 0-2 tahun, mereka masih membutuhkan pengawasan yang ketat ketika waktu tidur tiba. Alasannya masuk akal, agar kondisi anak senantiasa aman, mudah ditangani ketika butuh bantuan, menenangkannya saat menangis, hingga menghindari anak terjatuh dari tempat tidurnya.

(BACA JUGA: Agar si Kecil Mau dan Berani Tidur di Kamarnya Sendiri, Lakukan Hal Berikut Ini)


Ketika anak sudah menginjak usia lebih dari 3 tahun di mana mereka sudah dilatih untuk mandiri, sebaiknya mulai biasakan mereka untuk tidur di kamarnya sendiri secara terpisah dari orangtua. Menurut survei yang dilakukan oleh Parenting’s MomConnection, sebesar 45% ibu membiarkan anaknya yang berusia 8-12 tahun untuk tetap tidur satu ranjang bersama orangtua. Bukan bermaksud mengurangi konektivitas antara Anda dan anak, tetapi biasakan si Kecil tidur sendiri untuk memberikan manfaat positif untuknya kelak.


Tak hanya itu, jika Moms membiasakan tidur satu ranjang dengan si Kecil, maka bisa memengaruhi bahkan memberikan dampak negatif padanya. Simak informasi di bawah ini.


TIDAK MANDIRI

Anak yang terbiasa tidur bersama orangtua cenderung tumbuh menjadi pribadi yang manja. Mereka tidak dapat mengatasi rasa takut dan cemasnya seorang diri, sehingga ia menjadi sangat bergantung pada Anda orangtuanya, terutama di malam tiba.

Jika dibiarkan anak tidak mandiri mengurus dirinya sendiri dan ini bisa terbawa sampai usia anak menginjak remaja.



(Foto: Freepik.com/tirachardz)


TIDAK ADA PRIVASI

Bertambahnya usia anak, mereka akan tumbuh dengan pemikiran dan masalahnya sendiri. Jika Moms tidak melatihnya untuk tidur sendiri secara terpisah, maka secara tidak langsung mereka akan kehilangan privasinya.

Kamar yang seharusnya menjadi area pribadi si Kecil untuk mencurahkan segala isi pemikiran dan perasaannya, kini menjadi sangat terbatas baginya. Alhasil, ia akan menjadi tertekan dan depresi, karena memilih diam serta menyembunyikan masalahnya di hadapan orangtua.


KURANG NYAMAN

Selain membatasi privasi, membiasakan tidur bersama anak akan membuat kualitas istirahat menjadi terganggu. Hal ini disebabkan kapasitas kasur tidak dapat memenuhi standarnya. Moms dan si Kecil pun akan mudah terbangun saat malam hari, karena merasa terlalu sempit, berdesakan, dan berisik.

(BACA JUGA: 5 Aktivitas yang Bisa Anda Lakukan Sebelum Mengajak Anak Tidur)

Tidak menutup kemungkinan orangtua dan anak menderita sakit punggung atau nyeri pada tubuhnya akibat salah tidur. 

 

GANGGUAN KESEHATAN

Tidur bersama anak akan memudahkan mereka cepat terkena virus menular saat Moms atau Dads sedang menderita sakit, seperti flu dan batuk. Perputaran bakteri sangat mudah menempel di dalam ruangan dan menular begitu saja dalam waktu singkat.

Menurut studi yang dituliskan dalam The American Academy of Pediatrics, tidur bersama balita pun terbilang cukup berbahaya. Dalam kasus yang serius, sang anak akan mengalami kematian, baik karena kekurangan oksigen dalam satu ruangan atau tertindih saat malam hari secara tidak sengaja. 


PENGARUHI HUBUNGAN SUAMI ISTRI

Tidak hanya anak yang akan kehilangan privasi, orangtua pun demikian. Moms tidak akan memiliki waktu berdua dengan suami untuk berdiskusi ataupun melakukan hubungan intim. Buruknya, jika ada permasalahan antara orangtua, anak dapat mendengarnya dan menambah lebar masalah yang ada.

Hal ini membuat pikiran anak tidak sehat. Bahkan, dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa alasan perceraian bisa terjadi karena faktor ini.


(Elizabeth Puspa/Mondials Anindhita, foto: Freepik.com/tirachardz)