Semut menyarankan pada belalang bahwa lebih baik ia mengikuti langkah para semut yakni mengumpulkan makanan, supaya saat musim hujan tiba ia tidak mengalami kesulitan dalam mencari makanan.


Sayangnya belalang tidak mau mendengarkan perkataan semut. Ia berkata, “Ah makanan itu soal gampang, aku bisa mencarinya nanti. Sekarang aku mau santai-santai dulu menikmati indahnya musik dan suara indahku.”


Ia pun terus melakukan hal itu dari hari ke hari tanpa kenal rasa lelah. Hingga tanpa terasa, musim hujan datang. Belalang yang hidup di atas tanah tiba-tiba panik karena ternyata ketersediaan makanan di kebun sangat sedikit. Ia pun mulai kelaparan dan kedinginan hingga sakit.




Semut penjaga yang kebetulan melihat belalang melapor pada kawanannya yang hidup di dalam tanah. Ratu semut yang baik hati akhirnya meminta semut penjaga untuk membawa belalang ke dalam sarang. Supaya belalang dapat makanan dan berlindung dari derasnya hujan.


Belalang awalnya menolak ajakan tersebut karena ia malu terhadap semut. Namun karena bujukan dari para semut, belalang akhirnya menurut dan ikut masuk ke dalam sarang. Para semut tidak ragu untuk menjamu belalang dengan berbagai jenis makanan yang sudah mereka kumpulkan beberapa waktu lalu.


Belalang akhirnya sadar, bahwa bermalas-malasan dan menunda hal penting adalah hal yang tidak baik. Sejak itu, setiap musim hujan hampir tiba belalang mengikuti jejak semut untuk mengumpulkan makanan agar ia tidak kesulitan lagi di kemudian hari.


(Andiasti Ajani, foto: ekathimerini.com, coroflot.com, motivisionlife.blogspot.com)