Berbekal wawancara dengan Dr. (Cand). Baby Jim Aditya, M.Psi., Psikolog, C.I., C.Ht. terkuak satu hal penting yang perlu Anda ketahui mengenai psikologis anak. Kita tak bisa menutup mata jika cukup banyaknya kasus gangguan psikologis pada anak. Tanpa menyebutkan nama ataupun ciri-ciri, Baby Jim memaparkan kepada GLITZMEDIA.CO tentang banyaknya kasus dari pasien yang berkonsultasi padanya. 

“Mulai dari kasus perselingkuhan, porn addict, keinginan bunuh diri, hingga LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender), rata-rata penyebabnya mirip, yaitu lack of father’s role,” cerita Baby Jim. Pernyataan yang cukup mengagetkan dan membuat kita penasaran.

Eksklusif kepada GLITZMEDIA.CO inilah Baby Jim ungkapkan lebih detail penyebab terjadinya gangguan psikologis pada anak—termasuk kekeliruan pola didik orangtua terhadap anak. 


“Ayah pemberi nafkah.”

Kewajiban seorang ayah adalah menafkahi keluarga—tak bisa dipungkiri. Namun, banyak ayah yang selalu merasa bahwa nafkah lahiriah lah yang menjadi tanggung jawab penuhnya, bukan nafkah batiniah. “Saat memberikan pendidikan seks, saya pernah bertanya pada murid laki-laki di salah satu SMP di Jakarta. Saya bertanya apakah ia sering bercerita dengan ayahnya. Dia jawab tidak dan mengatakan jika komunikasi dengan ayah biasanya berkaitan dengan uang,” cerita Baby Jim.


“Pendidikan adalah tanggung jawab ibu.”

Ibu seolah menjadi pendidik utama dalam urusan rumah tangga. Padahal, kepincangan peran justru dapat membuat anak mendapatkan pendidikan yang tak seimbang, apalagi jika pandangan ini membuat Anda mewajari sosok ayah yang sibuk. Ini akan membuat adanya jarak antara anak dengan ayah yang membuat pribadi anak menjadi tidak stabil. 

“Biasanya faktor budaya menjadi pengaruh yang besar. Tak sedikit pria (ayah) yang menyerahkan pendidikan anaknya pada wanita (ibu), sehingga tak jarang timbul kebencian pada sosok ayah yang sangat anak butuhkan sebagai pendidik,” jelas psikolog yang juga aktif sebagai aktivis HIV/AIDS ini.


“Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.”

Kali ini bisa dilakukan baik oleh ayah ataupun ibu. Sifat atau kebiasaan buruk orangtua biasanya direkam dengan baik oleh memori (pikiran) anak. Saat tumbuh dewasa, tak jarang anak melakukan sifat buruk dari orangtua yang sudah terekam dalam otaknya dan menjadikan hal ini kebiasaan—sekalipun anak tersebut sebenarnya tidak menyukai sifat tersebut. 

Anak cenderung memberi sugesti pada otaknya untuk tidak ingin memiliki sifat-sifat buruk orangtuanya. Namun, ini membuat anak hanya fokus terhadap hal-hal yang tidak dia inginkan dan tak tahu apa yang sebenarnya ia harapkan. Akibatnya sifat buruk tersebut lah yang ia jalankan. 


“Ayah tak pernah marah.”

Biasanya, ayah selalu meminta bantuan ibu untuk menegur anak—kembali pada pandangan di poin nomor dua. Ini membuat ayah terlihat menjadi sosok yang tak pernah marah dan selalu menuruti kemauan anak. Dengan begini anak melihat tak ada kesamaan antara cara mendidik ayah dan ibu. Benar, salah satunya harus ada yang bisa dijadikan tempat bicara. Namun bukan berarti beda visi saat memberikan pendidikan pada anak.


“Jangan bilang Ayah atau Ibu.”

Saat anak mengakui kesalahannya atau mencoba jujur, sikapilah dengan bijaksana. Tanamkan bahwa seorang yang berjiwa kesatria adalah mereka yang mengakui kesalahannya. Jadi, hargai saat anak berkata jujur pada Anda. Namun saat ia meminta Anda merahasiakan dari ayah, jangan diikuti. Tak juga serta merta Anda langsung memojokkannya. Cobalah untuk tanya alasannya dan jelaskan bahwa Anda akan memastikan ayahnya tak akan marah, begitu pula sebaliknya. 


Perlu Anda ketahui, lack of father’s role bukan murni kesalahan ayah. Anda pun sebagai ibu juga punya andil besar saat hal ini terjadi. Terkadang, ibu membiarkan terjadinya pandangan-pandangan di atas, alih-alih menyeimbangkan pola pendidikan untuk anak. 

“Intinya, jangan sampai anak memiliki kekesalan pada salah satu orangtua—baik ayah maupun ibu. Temukan satu visi pendidikan untuk anak dan lakukan bersama-sama,” tutup Baby Jim Aditya yang ingin tanamkan hal ini sebagai edukasi kepada para orangtua.

(Shilla Dipo, Images: Corbis)