Hindari kebiasaan berkata kasar yang bisa membuat moral anak kian menurun.  


Keluarga adalah tempat berlindung untuk anak. Jangan sampai mereka merasa asing dan tidak nyaman ketika tinggal bersama orangtuanya. Bentuk pola asuh yang menyimpang bukan hanya soal kekerasan fisik, tetapi juga verbal. Emosi yang sedang tinggi terkadang membuat Anda tidak sadar telah berkata-kata kasar dengan nada tinggi dan menyinggung perasaan anak. Meskipun tidak melukainya secara fisik, namun kebiasaan ini berdampak buruk bagi perkembangan mental maupun moralnya.


Menurut penelitian yang tertulis dalam Journal Child Development, menemukan bahwa anak yang hidup dengan pola asuh tersebut akan cenderung bersikap negatif atau lebih nakal ketika remaja nanti. Mereka terbiasa untuk berbohong, mencuri, suka berkelahi, dan egois ketika berhadapan dengan lawan bicaranya.


Tindakan yang anak lakukan tersebut sebenarnya sebagai bentuk perlindungan maupun pemberontakan kepada orangtuanya. Anak merasa tidak mendapatkan keadilan dan takut berkata jujur ketika berada di rumah, sehingga cara pelampiasan yang menurutnya tepat yakni kepada orang-orang di sekitarnya. Selain itu, anak cenderung mudah meniru apa yang orangtua lakukan di rumah. Maka jangan heran, jika nilai negatif inilah yang mereka bawa ke dalam pergaulannya.


Kondisi ini semakin terlihat jelas ketika anak sudah memasuki usia remaja, yakni 13 – 15 tahun. “This is one of the first studies to indicate that parents' harsh verbal discipline is damaging to the developing adolescent,” ujar Ming-Te Wang, selaku psikolog dan asisten profesor dari University of Pittsburgh.  Oleh karena itu, mulailah menerapkan sistem komunikasi dua arah. Jangan biarkan kata-kata kasar bernada tinggi keluar dari mulut Anda, terutama ketika mereka melakukan kesalahan.


(Elizabeth Puspa, Foto: Pixabay.com)