Meskipun terlihat lucu, bukan berarti Anda boleh membiarkannya.


Beberapa orangtua mungkin menganggap anak perempuan yang bermain dengan peralatan dandan merupakan refleksi dari kecerdasannya. Tingkah lucu dan menggemaskan ketika bermain brush atau lipstik dianggap lumrah untuk anak-anak lakukan. Padahal, kulitnya yang masih muda bisa lebih sensitif dan memiliki kemungkinan untuk menimbulkan reaksi ketika bersentuhan dengan makeup. Tidak hanya sebatas itu, masalah psikologis yang mengganggu perkembangan anak juga bisa hadir dari kebiasaan ini.


Para ahli psikologi memiliki kekhawatiran akan fenomena tersebut. Hal yang menjadi kekhawatiran adalah anak-anak akan melewati masa remaja lebih awal dari anak sebaya karena menganggap dirinya sudah dewasa. Hal ini juga dianggap sebagai salah satu pemicu turunnya angka definisi umur remaja beberapa tahun belakang.


Jika Anda merasa anak-anak menggunakan makeup karena meniru perilaku ibunya dan membiarkan begitu saja, lama-lama mereka bisa memandang bahwa makeup adalah hal yang digunakan untuk menyempurnakan penampilan. Dengan begini, rasa percaya diri yang harusnya terbangun sejak dini justru semakin merosot karena hilangnya rasa percaya pada tampilan alami apa adanya.


Peran Anda sebagai orangtua adalah memberi pemahaman bahwa penilaian terhadap orang lain berasal dari perilaku dan sifat, bukan hanya tampak luar seperti makeup atau pakaian yang dikenakan. Makeup hanyalah perantara sementara untuk menunjukkan eksistensi diri.


(Nisa Rahtio, foto: pxhere.com)