×

Stay in The know

Motherhood

Mean Moms: Apakah Anda Korbannya atau Justru Pelakunya?

Mean Moms: Apakah Anda Korbannya atau Justru Pelakunya?
Ayu Utami

Wed, 8 August 2018 at 19.27

Melihat dari sisi psikologis perilaku perundungan di kalangan para ibu dan cara menghadapinya.

Durasi baca: 1 menit 20 detik


Sifat merundung atau bully tidak hanya ada di lingkungan anak-anak, remaja, atau warganet di media sosial saja. Faktanya para ibu juga mengalami hal yang sama di lingkungan rumah—bahkan yang paling sering, di sekolah anak. Istilah mean moms, bully moms, hingga mom-shaming, sudah umum menjadi pembahasan oleh para ibu, psikolog, sampai dijadikan film. Bully yang dilontarkan bukan hanya cemoohan fisik verbal atau body shaming, namun juga membandingkan anak, mempertanyakan cara mendidik anak, memilih vaksin atau tidak, camilan untuk anak, hingga menjelek-jelekkan orangtua lain.


“Saya pernah dikatakan gendut oleh seorang nenek yang menunggui cucunya sekolah. Padahal saat itu baru beberapa bulan melahirkan anak kedua. ‘Kok gendut banget sih? Nanti nggak cantik, lho!’ katanya waktu itu. Saya sakit hati sekali, tapi sekaligus tidak enak mau menjawab balik, karena dia adalah ibu dari teman saya juga,” kenang Monique, salah satu korban bully di sekolah anaknya yang bertaraf internasional.


“Hal ini bukan hal yang baru,” komentar Dr. Irene S. Levine, seorang profesor sekaligus psikiater di New York University School of Medicine, kepada Cathy Areu, representatif dari today.com. “(Ibu bully) sudah ada sejak lama, hanya saja hal ini baru bagi Anda—sebagai ibu baru,” tambahnya. Ia melanjutkan, “Para ibu ini merundung ibu lain untuk membuat diri mereka merasa lebih baik. Semua ibu berusaha untuk menjadi yang sempurna, sehingga salah satu cara membuat diri mereka (ibu bully) merasa lebih baik adalah dengan mengkritik ibu lain.”

(BACA JUGA: Selain Gangguan Mental, Bullying juga Miliki Dampak Lain)

You Might Also LIke