Gangguan spektrum autisme adalah gangguan neurobiologis yang memengaruhi fungsi otak. Gangguan yang dikategorikan ketidakmampuan ini biasa terjadi pada anak di usia dini, di mana anak memiliki keterlambatan dalam berkomunikasi, berinteraksi, dan berperilaku tidak normal saat berhadapan dengan orang-orang di lingkungan sekitarnya. 

Hingga saat ini banyak orang yang berspekulasi bahwa autisme adalah penyakit turunan yang ditularkan melalui gen. Namun, menurut penelitian yang dilakukan oleh Centers for Disease Control and Prevention, tidak ada faktor tunggal yang menyebabkan anak menjadi autis. Banyak faktor yang sebenarnya bisa menyebabkan seseorang akhirnya menderita autisme. Untuk lebih jelasnya, simak ulasan Glitz Media berikut ini. 


Faktor Genetik

Menurut dr. Anna Kaplan, selaku dokter spesialis anak, jika Anda memiliki sejarah atau riwayat hidup saudara atau orangtua yang mengalami gangguan autis, maka 5-6% keturunan (anak) berpotensi mengalami gejala yang serupa. Namun, resiko akan jauh lebih besar terjadi, ketika Anda memiliki anak kembar identik. Diperkirakan 80-90% gangguan autis juga akan menular pada saudara kembar lainnya. Menurut dr. Anna Kaplan, anak laki-laki lebih rentan untuk menderita gangguan autis dibandingkan dengan anak perempuan dengan skala perbandingan 4 : 1.


Kurangnya Nutrisi 

Pola hidup dan makan di masa kehamilan paling krusial bagi wanita yang sedang mengandung. Pada masa ini, pola makan harus 2 kali lebih hati-hati dari biasanya karena akan memengaruhi perkembangan janin. Ibu yang sedang hamil seringkali diingatkan untuk tidak sembarangan makan dan wajib menyukupi kebutuhan nutrisinya. 

Sayangnya, anjuran ini masih sering diabaikan yang berakhir memberikan dampak buruk bagi si bayi—apalagi jika bayi tidak mendapatkan asam folat yang cukup. Seperti yang diketahui bersama, kalau asam folat sangat berguna untuk membantu pertumbuhan otak dan struktur saraf bagi perkembangan janin.


Lingkungan Yang Tidak Sehat

Bagi para ibu hamil yang kerap beraktivitas di luar ruangan dan lingkungan padat disarankan untuk selalu menggunakan masker pernapasan. Debu dan virus yang berbahaya bisa diminimalisir dengan penggunaan masker pada hidup dan mulut agar tidak masuk secara frontal ke dalam sistem pernapasan dan tubuh. Pasalnya, udara yang tidak sehat, seperti polutan, logam, pestisida, merkuri, dan lain sebagainya, memicu terjadinya gangguan autis pada janin yang ada dalam kandungan. Satu lagi, pada masa kehamilan hindari kontak langsung dengan asap rokok yang bisa merusak gen pada janin Anda. 



Usia Kehamilan

Anak yang lahir dari ibu atau ayah dengan usia lanjut dikatakan lebih rentan mengalami autisme—apalagi jika sang ibu telah memasuki usia 35 tahun ke atas saat mengandung. Selain itu bayi yang lahir dalam waktu kurang atau lebih dari 9 bulan, disertai berat badan di bawah batas normal (cukup rendah) juga lebih mudah mengalami gangguan autisme nantinya.


Pengaruh Obat Semasa Kehamilan

Selama masa kehamilan—khususnya di usia hamil muda—hindari segala jenis obat yang mengandung antidepresan atau obat tidur. Selain itu, hentikan penggunaan obat-obatan jika Anda mengalami mual dan  muntah berlebihan setelah mengonsumsinya. Konsultasikan kandungan segera kepada dokter. Membiarkan kandungan obat yang salah di dalam tubuh bisa memperburuk dan membahayakan janin nantinya.


Penyakit Tuberous Sclerosis

Sebanyak 1%–4 penderita Tuberous Sclerosis berpotensi mengalami gangguan autisme. Penyakit Tuberous Sclerosis sendiri merupakan penyakit genetik yang langka yang berkembang di beberapa bagian tubuh, seperti otak, kulit, dan ginjal. Gejala dari penyakit ini biasanya berupa kejak (serangan epilepsi), gangguan kulit, tumor ginjal, hingga perubahan perilaku. Penyakit Tuberous Sclerosis umumnya dibawa oleh orangtua dan diwariskan kepada anak

(Elizabeth Puspa, Image: Corbis)