×

Stay in The know

Motherhood

Apakah Anda Sulit Menahan Emosi Saat Mendisiplinkan Anak? Ini Akibatnya

Apakah Anda Sulit Menahan Emosi Saat Mendisiplinkan Anak? Ini Akibatnya
Anggia Hapsari

Wed, 25 March 2020 at 18.36

Tahan emosi dan jangan lakukan kekerasan saat melatih anak disiplin. 

Durasi baca: 55 detik 


Bekerja dari rumah dan sekolah dari rumah yang sedang Anda lakukan beberapa waktu belakangan ini tentu menjadi ajang yang tepat untuk melatih anak agar lebih disiplin. Ada banyak cara yang dilakukan orangtua dalam mendisiplinkan anak. 


Biasanya bila memberi pengertian saja belum cukup, masih ada beberapa orangtua yang memukul salah satu anggota tubuh anak seperti tangan, kaki, atau bokong anak sebagai salah satu cara untuk mendisiplinkan.

(BACA JUGA: 3 Cara Efektif Membangkitkan Minat Belajar Anak)


Hati-hati, Mom! Tindakan ini bisa memicu anak menjadi agresif. Memang terkesan sepele, namun memukul bokong anak dapat memberikan dampak psikologis serius pada anak karena:


MENUNJUKAN SIKAP KEKERASAN PADA ANAK 

Setiap sikap yang dicontohkan orangtua akan dicontoh oleh anak. Bila Anda menggunakan kekerasan untuk mendisiplinkan anak, maka ia akan belajar bila kekerasan bisa menyelesaikan masalah. 


Bisa jadi, ia pun suatu saat akan mudah terpancing emosi dan melakukan hal yang sama kepada orang lain, misalnya memukul, teman atau adiknya.  


MENURUNKAN KECERDASAN ANAK 

Memukul bokong anak ternyata bukanlah cara yang efektif untuk membuat anak jera dalam jangka panjang. Yang ada malah cara ini menyebabkan perkembangan mental anak menjadi lambat bahkan bisa menurunkan kecerdasan mereka.  

(BACA JUGA: 4 Hal yang Harus Dilakukan saat Menonton Televisi Bersama Anak)


MENJADIKAN ANAK PEMBERONTAK 

Pola pikir anak sangatlah visual. Apapun yang Anda lakukan, ia akan merekam faktor visual terlebih dahulu dibanding ucapan Anda. Saat Anda melakukan kekerasan fisik apalagi disertai dengan kekerasan verbal seperti ucapan kasar sebagai bentuk pendisplinan, anak akan mudah sakit hati. 


Lama kelamaan, ia akan cenderung menjadi pemberontak. Hubungan dan komunikasi anak dan orang tua pun menjadi cenderung berjarak. 


Hal ini karena anak akan merasa takut saat melakukan kesalahan dan memilih untuk menyembunyikan atau menghindari orangtua. Bila dibiarkan anak akan menjadi tertutup, sulit berkomunikasi, dan memengaruhi kondisi psikologis anak. Anak pun menjadi tidak percaya diri dan cenderung emosional. 

(Anggia Hapsari, foto: Pexels)



You Might Also LIke