Ini yang harus Anda ketahui jika balita Anda sudah menyukai lawan jenis. 

Durasi baca: 1 menit 


Tak perlu menunggu anak-anak menjadi seorang remaja tanggung. Berbagai pengaruh film, dongeng putri raja, hingga media sosial telah ‘berhasil’ membuat anak balita, terutama anak perempuan, mulai tertarik lawan jenis.  


PENGALAMAN PRIBADI 

Beberapa waktu lalu setelah pulang dari taman bermain, saya dan anak saya, Mikha, usia 6 tahun, melakukan perbincangan santai yang sempat bikin saja deg-deg-an. 

(BACA JUGA: 4 Hal Penting Sebelum Anak Masuk Sekolah)



Ia berkata bahwa minggu lalu ia diberikan kertas bergambar oleh temannya.  Setelah saya lihat dan baca, saya menemukan gambar 2 anak yang sedang bergandengan tangan dengan coretan dan tulisan “I miss you” khas anak-anak. 


Saya pun tersenyum dan menanyakan dari siapa ia memperoleh surat tersebut. Dengan santai, Mikha menjawab bahwa surat itu ia peroleh dari teman perempuannya di sekolah. Mikha memang senang bermain dengan teman perempuannya ini. 


Keesokan harinya, saya pun mengutarakan cerita tersebut kepada salah satu ibu teman Mikha di sekolah. Tak disangka, ia pun tergelak. Ternyata, anaknya pun sering mendengar nama Mikha (anak saya) di salah satu perbincangan anak-anak perempuan. 


Si ibu mengatakan pada saya bahwa Mikha disukai oleh anak-anak perempuan karena ia sangat baik, suka bercerita lucu, wangi, dan selalu rapi. 


TIDAK MENGAPA. SAH-SAH SAJA KOK

Meskipun hati berbunga-bunga, saya pun sempat was-was. Sambil mengawasi Mikha main bola dengan teman laki-lakinya, saya pun berpikir keras. Apakah benar anak perempuan dan laki-laki kini sudah mengenal rasa ketertarikan terhadap lawan jenis terlalu dini?  


Menurut Intan Erlita selaku psikolog anak kondisi ini sangat wajar dialami. Ini alasannya: 

(BACA JUGA: Nama Anak Perempuan Jawa)



KONSEP KETERTARIKAN LAWAN JENIS YANG JAUH BERBEDA


Sebagai orang tua, Anda tidak perlu khawatir ketika mendengar cerita atau melihat sikap anak yang menunjukkan rasa tertarik pada lawan jenis. Karena, konsep ketertarikan anak-anak terhadap lawan jenis memang berbeda dengan anak usia remaja. 


Konsep ini pun jauh berbeda dari kita yang sudah pada tahapan usia matang dan produktif. 


PEMAHAMAN KOGNITIF ANAK KIAN BERKEMBANG

Ini merupakan kemampuan seorang anak dalam berpikir, mengetahui, dan memecahkan masalah yang terjadi di sekitar dirinya. Kondisi yang saya alami mengartikan bahwa anak mulai paham akan perbedaan jenis kelamin laki-laki dan perempuan.  


Anak balita baru dapat memahami dari tampilan fisik seseorang saja. Umumnya, ia akan melihat seseorang yang menarik dari tampilannya lalu membandingkannya dengan tampilan ayah dan ibunya. 


Rasa ketertarikan seorang anak belum mencapai seperti afeksi seksual seperti orang dewasa. Itulah sebabnya, tak salah jika Anda dan pasangan mulai menanamkan pendidikan seks sejak dini. Mulailah dengan memperkenalkan jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Dan tanamkan bahwa kemaluan mereka adalah organ yang sangat personal. 


Ajarkan juga kepada anak-anak bahwa dengan perbedaan jenis kelamin tersebut mereka tetap harus saling menyayangi dan menghargai.  


RASA KAGUM


Sebenarnya, situasi yang sedang dialami oleh anak-anak sepantaran Mikha adalah bentuk kekaguman yang biasa. Pada usia ini, ada banyak hal yang membuat seorang anak merasa kagum. Misalnya, karena seorang teman jago bermain bola,tak segan membantu teman, dan sebagainya.  


Kekaguman yang muncul terhadap seseorang tersebut muncul karena sang anak tidak memiliki talenta yang sama atau ia menemukan sesuatu yang berbeda pada diri temannya.   


Lalu harus bagaimana sebaiknya kita bersikap ketika ibu mengalami pengalaman yang sama seperti saya? Para ahli menyarakan untuk mendengarkan cerita anak dengan baik. Tak perlu menampilkan reaksi berlebihan. 


Tanyakan kepada anak Anda, apa yang mereka rasakan? Kemudian, sampaikan kepada anak bahwa semua orang memang memiliki kelebihan yang harus terus dikembangkan. Untuk itulah, mereka harus berteman sebanyak mungkin sehingga perhatiannya tidak berpusat pada satu orang atau sekelompok orang yang sama.  

(Anggia Hapsari, foto: pexel.com/ Pixabay/ Victoria Borodinova/ Trinity Kubassek)