Menurut medis, merekam kegiatan saat berhubungan seks termasuk ke dalam kategori gangguan psikologis.

Durasi baca: 1 menit.


Dua tahun lalu, sebuah berita mengenai kasus video porno yang melibatkan tiga pesohor tanah air yakni Ariel ‘Noah’, Luna Maya dan Cut Tari kembali diperbincangkan. Setelah delapan tahun, status Luna Maya dan Cut Tari yang juga ditetapkan sebagai tersangka, seakan menggantung.


Hal ini diungkit kembali oleh Lembaga Pengawas dan Pengawal Penegakan Hukum Indonesia (LP3HI).


“Luna Maya dan Cut Tari adalah pulic figure yang semestinya diberi perlindungan hukum. Jika keduanya tidak mendapat perlindungan hukum, apalagi rakyat biasa. Dikhawatirkan akan menjadi korban ketidakpastian hukum,” ujar Kurniawan Nugroho selaku Wakil Ketua LP3HI dalam sebuah wawancara.

(BACA JUGA: Orgasme Ternyata Mampu Mempercepat Siklus Menstruasi Anda)

 



Belum jelas apa tujuan dari LP3HI kembali mengungkit kasus ini. Tetapi, hal ini memicu kembali ingatan kita semua soal dua video  yang muncul di tahun 2010 itu. Pada saat itu, banyak yang berpikir apa alasan Ariel merekam aktivitas hubungan intimnya bersama Luna Maya dan Cut Tari?


Dalam dunia seks, merekam kegiatan seksual atau biasa disebut dengan sex tape memang bukan lagi hal asing. Carolanne Marcantonio seorang sex therapist asal New York mengatakan, ada berbagai alasan mengapa seseorang memutuskan untuk merekam kegiatan seksnya.


“Pasangan yang sedikit nakal atau liar, dikenal suka melihat aksinya dalam berhubungan seks di dalam sebuah video. Tujuannya juga beragam, ada yang merekam hanya untuk koleksi pribadi, ada yang untuk ditonton bersama pasangannya dan ada juga yang ingin menyebarkannya."


"Itu semua tergantung dari pribadi masing-masing saat mereka memutuskan untuk menekan tombol rekam,” ungkap Marcantonio. Penjelasan Marcantonio ini kemudian memunculkan pertanyaan baru, “Apakah normal bagi seseorang merekam aksinya saat berhubungan seks dengan pasangannya?” tambahnya.